Prabowo Tegaskan Renovasi Sekolah dan Pesantren Harus Tuntas 2029

bumi pesantren | 17 Agustus 2026 18:40

Prabowo Tegaskan Renovasi Sekolah dan Pesantren Harus Tuntas 2029
Presiden RI Prabowo saat Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Senayan, Jakarta. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pembangunan manusia menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam menentukan masa depan Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan akses pendidikan berkualitas serta percepatan revitalisasi satuan pendidikan, termasuk madrasah dan pesantren.

 

Hal itu disampaikan Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Senayan, Jakarta, Jumat, (14/8/2026).

 

“Pembangunan yang paling menentukan masa depan adalah pembangunan manusia,” kata Prabowo, dikutip dari kemenag.go.id, Senin, (17/8/2026).

 

 

Menurut Prabowo, pemerintah terus mempercepat perbaikan infrastruktur pendidikan agar peserta didik di berbagai wilayah memperoleh lingkungan belajar yang layak. Hingga 2026, pemerintah telah memperbaiki lebih dari 71.744 sekolah.

 

“Sampai tahun ini kita telah perbaiki lebih dari 71.744 sekolah. Tahun lalu 17.000, tahun ini 71.000 lebih. Tahun depan target kita 100.000,” ujarnya.

 

Prabowo menargetkan seluruh sekolah di Indonesia, termasuk satuan pendidikan yang berada di lingkungan pesantren, dapat menyelesaikan proses renovasi pada 2029.

 

“Tahun 2029 semua sekolah di Indonesia, SD, SMP, SMA, SMK termasuk di pesantren-pesantren harus kita selesai renovasi,” tegasnya.

 

 

Dalam program tersebut, madrasah juga menjadi bagian dari prioritas revitalisasi pemerintah. Sebanyak 2.120 madrasah telah diusulkan mendapatkan program revitalisasi, sementara 1.404 madrasah di antaranya tengah dikebut pengerjaannya.

 

Program PHTC Revitalisasi Madrasah menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah untuk menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. Revitalisasi tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak Indonesia memperoleh fasilitas pendidikan yang memadai.

 

Sebelumnya, saat meninjau MTsN 1 Kota Bogor, Menteri Agama Nasaruddin Umar turut mendukung perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan. Menurutnya, kebijakan pendidikan diarahkan untuk memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh anak bangsa.

 

“Pemerintah, dalam hal ini Presiden Prabowo, benar-benar memberikan perhatian kepada pendidikan tanpa membedakan. Semua diberikan prioritas agar anak-anak senang belajar, guru senang mengajar, dan masyarakat puas dengan hasilnya,” kata Nasaruddin.

 

Selain pembenahan sarana pendidikan, Prabowo menekankan pentingnya peningkatan mutu pembelajaran dan kemampuan peserta didik agar mampu menghadapi persaingan global. Salah satunya melalui penguatan sekolah unggul Garuda Transformasi.

 

“Sekolah unggul Garuda Transformasi tadi sudah mencakup 42 sekolah di 15 provinsi. Terdiri dari 12 sekolah tahun 2025 dan 30 sekolah tambahan pada tahun 2026,” ujarnya.

 

 

Program tersebut juga mencakup Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia OKI dan MAN Insan Cendekia Gorontalo. Prabowo mengatakan sekolah tersebut menggunakan kurikulum internasional International Baccalaureate (IB) yang dinilai sesuai dengan standar pendidikan tinggi global.

 

Pemerintah juga berkomitmen memperkuat kompetensi guru, termasuk dalam penguasaan bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Arab.

 

“Kita akan kumpulkan guru-guru terbaik. Termasuk bahasa asing. Bahasa asing mutlak harus kita kuasai,” kata Prabowo.

 

Penguasaan bahasa asing, lanjutnya, akan mulai diperkenalkan sejak jenjang pendidikan dasar.

 

“Kita akan mulai bahasa asing untuk anak-anak kita mulai dari SD. SD kelas 1 mereka harus mulai bahasa asing,” ujarnya.

 

 

 

Prabowo menegaskan peningkatan kualitas pendidikan harus bermuara pada kemampuan anak-anak Indonesia memperoleh kesempatan yang lebih baik ketika memasuki dunia kerja.

 

“Anak-anak kita harus punya akses kepada pendidikan terbaik agar mereka nanti kalau sudah mencari lapangan kerja mereka punya kemampuan lebih,” katanya.

 

Pemerataan pendidikan juga berkaitan dengan akses fisik menuju sekolah. Karena itu, pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur konektivitas di wilayah perdesaan agar kondisi geografis tidak menjadi hambatan bagi anak-anak untuk bersekolah.

 

Prabowo menyebut pemerintah telah menyelesaikan pembangunan 2.500 jembatan desa yang dikerjakan TNI serta 874 jembatan desa yang dibangun Polri pada tahun ini.

 

“Target kita pada akhir tahun ini selesai 5.000 lebih jembatan desa,” kata Prabowo.

 

 

Ia menegaskan pembangunan infrastruktur tersebut harus memastikan tidak ada lagi anak yang menghadapi risiko keselamatan dalam perjalanan menuju sekolah.

 

“Tidak boleh lagi ada anak-anak kita yang harus bertarung nyawa hanya untuk menyeberang sungai untuk ke sekolah, karena tidak ada jembatan,” ujarnya.

 

Bagi Kementerian Agama, penguatan revitalisasi madrasah dan pesantren menjadi bagian penting dari agenda pemerataan kualitas pendidikan. Dengan dukungan sarana yang layak, peningkatan kompetensi pendidik, serta akses pendidikan yang semakin merata, pemerintah berharap layanan pendidikan berkualitas dapat dirasakan masyarakat di berbagai daerah. (ivan)