Perempuan Aktif di Media Digital, Ancaman Kekerasan Siber Kian Mengintai

komunitas | 25 Mei 2026 20:21

Perempuan Aktif di Media Digital, Ancaman Kekerasan Siber Kian Mengintai
Kampanye kekerasan seksual terhadap perempuan. (dok radarsurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Perkembangan teknologi digital memberikan ruang yang semakin luas bagi perempuan untuk berkarya, menyampaikan pendapat, hingga membangun jejaring sosial di dunia maya. Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman kekerasan dan pelecehan digital terhadap perempuan juga terus meningkat dan menjadi perhatian serius. Senin, (25/5/2026).

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD, mengatakan bahwa ruang digital memiliki dua sisi yang saling beriringan. Selain menghadirkan peluang baru, internet juga membuka potensi terjadinya kekerasan yang sulit dikendalikan.

“Di satu sisi, ruang digital membuka peluang baru bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyuarakan opini, hingga melakukan advokasi sosial. Namun di sisi lain, ruang digital juga menciptakan bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering kali lebih sulit dikendalikan dibanding kekerasan di ruang fisik,” ujar Prof Myrta. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, tingginya ancaman terhadap perempuan di media digital tidak lepas dari budaya patriarki yang masih melekat di masyarakat dan terbawa hingga ke ruang maya. Kondisi tersebut membuat perempuan lebih rentan menjadi sasaran komentar negatif, body shaming, hingga serangan personal di media sosial.

“Perempuan lebih sering menerima komentar negatif, body shaming, dan serangan personal di media digital karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat. Teknologinya memang baru, tetapi cara orang memperlakukan perempuan masih sama seperti di dunia nyata,” jelasnya.

Pakar Bio-antropologi dan Antropologi Forensik itu menambahkan, identitas perempuan di ruang publik masih kerap dikaitkan dengan aspek pribadi seperti tubuh, emosi, moralitas, dan relasi sosial. Akibatnya, ketika perempuan menyampaikan pendapat di media digital, respons yang muncul sering kali menyerang identitas pribadi dibanding substansi gagasannya.

Lebih lanjut, Prof Myrta menegaskan bahwa ruang digital sejatinya tidak terpisah dari kehidupan sosial masyarakat. Nilai, norma, dan budaya yang berkembang di kehidupan nyata turut tercermin di internet.

“Ruang digital sebenarnya tidak terpisah dari kehidupan sosial. Nilai, norma, dan budaya di masyarakat ikut terbawa ke internet. Karena itu, cara perempuan diperlakukan di dunia digital sering mencerminkan bagaimana perempuan diperlakukan di dunia nyata,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan di ruang digital umumnya terjadi secara bertahap. Mulai dari komentar merendahkan, ancaman keamanan, penyebaran data pribadi, hingga kekerasan seksual berbasis digital.

Dampak dari pengalaman negatif tersebut tidak hanya dirasakan sesaat, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental, identitas diri, hubungan sosial, hingga perkembangan akademik dan karier korban.

“Pengalaman negatif di media digital dapat memberi dampak yang luas terhadap perempuan, bukan hanya pada perasaan sesaat, tetapi juga pada kesehatan mental, identitas diri, relasi sosial, bahkan perkembangan akademik dan karier,” paparnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Prof Myrta menilai peningkatan literasi digital menjadi langkah penting. Menurutnya, masih banyak pengguna media sosial yang memahami kebebasan berekspresi tanpa mempertimbangkan etika serta dampak dari komunikasi yang dilakukan.

Karena itu, menciptakan ruang digital yang sehat dan aman membutuhkan perubahan pola pikir, baik di tingkat individu, masyarakat, maupun kebijakan yang mendukung perlindungan perempuan di dunia maya.

Di akhir pernyataannya, Prof Myrta mengajak perempuan untuk tetap percaya diri dan tidak takut menyuarakan gagasan di ruang digital.

“Jangan biarkan rasa takut membuat diri mengecil. Dunia digital membutuhkan suara, karya, perspektif, dan keberadaan perempuan. Namun pada saat yang sama, penting juga untuk memahami bahwa menjaga diri di ruang digital bukan tanda lemah, melainkan bentuk kesadaran dan perlindungan diri,” pungkasnya. (frchn)