Transaksi Digital Dominasi Bisnis Kuliner Surabaya

kuliner | 22 Agustus 2026 17:26

Transaksi Digital Dominasi Bisnis Kuliner Surabaya
Salah satu kegiatan pertemuan pelaku usaha food and beverage yang diselenggarakan oleh PT Esensi Solusi Buana (ESB). (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Transaksi digital semakin mendominasi aktivitas bisnis kuliner di Kota Surabaya, Jawa Timur. PT Esensi Solusi Buana (ESB) mencatat sebanyak 78 persen transaksi pada bisnis food and beverage (F&B) di Surabaya kini dilakukan secara non-tunai.

 

CEO sekaligus Co-Founder ESB Gunawan mengatakan, pertumbuhan transaksi digital tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya jumlah pelaku usaha F&B yang memanfaatkan teknologi dalam menjalankan bisnis. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (22/8/2026).

 

“Transaksi dari merchant yang sudah eksis juga naik hampir 10 persen, dengan 78 persen dari seluruh transaksi kini dilakukan secara non-tunai,” kata Gunawan dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Sabtu, (22/8/2026).

 

 

Ia menambahkan, basis merchant F&B di Surabaya juga mengalami pertumbuhan sebesar 32 persen dalam setahun terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor kuliner masih memiliki peluang pertumbuhan, meskipun pelaku usaha menghadapi persaingan yang semakin ketat.

 

Menurut Gunawan, pelaku F&B saat ini menghadapi berbagai tekanan operasional, terutama akibat kenaikan harga bahan baku dan semakin tipisnya margin keuntungan.

 

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perlu mengambil strategi yang dapat meningkatkan nilai transaksi sekaligus menjaga efisiensi operasional.

 

“Karena itu, kami menghadirkan ESB Order bukan hanya sebagai kanal pemesanan, tapi juga sebagai metode untuk meningkatkan belanja konsumen yang dampaknya langsung terasa di bottom line,” ujarnya.

 

 

Sementara itu, F&B Educator and Management Consultant Agung Haryadi menilai persaingan bisnis kuliner di Surabaya semakin ketat. Pertumbuhan jumlah tempat usaha kuliner dinilai cukup pesat, sementara pertumbuhan jumlah konsumen tidak selalu mengikuti.

 

“Pasar F&B Surabaya sekarang ini keras. Nyaris tiap ruko kosong jadi kafe baru, tapi jumlah konsumennya tidak bertambah secepat itu,” kata Agung.

 

 

Ia menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk mempertahankan bisnis di tengah persaingan yang semakin padat.

 

Selain persaingan antarpelaku usaha, biaya operasional dari platform pengiriman makanan daring juga menjadi salah satu persoalan yang dapat menekan keuntungan bisnis kuliner.

 

Agung mengatakan, besarnya komisi platform pengiriman dapat memberikan dampak langsung terhadap profitabilitas setiap transaksi yang dilakukan melalui layanan pesan-antar.

 

“Di tengah kondisi ekonomi yang menekan margin dari segala arah, selisih komisi ini bukan angka kecil karena dapat langsung berdampak pada profitabilitas setiap transaksi delivery yang masuk,” ujarnya.

 

 

Di tengah perkembangan tersebut, pemanfaatan transaksi non-tunai dan teknologi digital menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan pelaku usaha F&B untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen.

 

Digitalisasi juga memberikan peluang bagi bisnis kuliner untuk mengembangkan sistem pemesanan, meningkatkan nilai transaksi, serta mengelola operasional secara lebih efisien. (ivan)