SURABAYA, PustakaJC.co – Kebiasaan malas bergerak atau “mager” kini tak lagi sekadar istilah populer di kalangan anak muda. Fenomena ini perlahan menjelma menjadi gaya hidup yang berdampak nyata pada kesehatan masyarakat.
Di tengah kemudahan teknologi dan rutinitas serba digital, banyak orang lebih memilih duduk lama, rebahan sambil bermain gawai, hingga menggunakan kendaraan untuk jarak dekat. Pola hidup serba praktis ini tanpa disadari mendorong meningkatnya perilaku sedentari atau minim aktivitas fisik. Dilansir dari rri.co.id, Selasa, (7/3/2026).
Data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan mencatat, 37,4 persen penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun masih kurang melakukan aktivitas fisik. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, alasan terbanyak adalah tidak ada waktu sebesar 48,7 persen, disusul rasa malas 32,6 persen.
“Kurang aktivitas fisik masih menjadi tantangan gaya hidup masyarakat Indonesia, terutama di tengah kebiasaan serba praktis dan digital,” tulis BKPK Kemenkes dalam rilisnya.
Fenomena ini terlihat dari kebiasaan sederhana sehari-hari, mulai naik motor ke warung dekat rumah, duduk berjam-jam saat bekerja, hingga terlalu lama scrolling di ponsel. Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat membentuk pola hidup tidak sehat dan meningkatkan risiko penyakit.
BKPK menegaskan, aktivitas fisik berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, hipertensi, hingga obesitas.
Sebagai langkah pencegahan, orang dewasa usia 18–64 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu. Sementara anak dan remaja disarankan aktif minimal 60 menit setiap hari.
Perubahan kecil dapat menjadi awal. Mulai dari berjalan kaki 10 menit setiap pagi, memilih tangga daripada lift, hingga berdiri sejenak setelah duduk selama satu jam bisa membantu mengurangi dampak buruk gaya hidup minim gerak.
Di era serba digital, kebiasaan mager menjadi pengingat bahwa kesehatan bisa terancam dari hal-hal sederhana. Jika tidak diantisipasi, tren ini berpotensi meningkatkan beban penyakit di masa depan. (ivan)