SURABAYA, PustakaJC.co – Fenomena kesepian atau loneliness kini semakin banyak dialami generasi muda, khususnya Gen Z. Pola hidup individualistis, aktivitas yang monoton, hingga ketergantungan terhadap gawai dinilai menjadi pemicu utama menurunnya kualitas hubungan sosial di tengah masyarakat. Jumat, (8/5/2026).
Psikolog sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, Diana Rahmasari, mengatakan rasa kesepian yang dibiarkan berlarut-larut dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, bahkan memicu depresi.
“Kita ini makhluk sosial yang pada dasarnya tetap membutuhkan kehadiran orang lain. Tanpa adanya hubungan yang bermakna dengan sesama, potensi untuk merasakan kesepian itu akan selalu ada,” ujarnya. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Jumat (8/5/2026).
Menurut Diana, individu yang mengalami kesepian umumnya mulai merasa dirinya tidak berharga, kehilangan peran dalam lingkungan sosial, hingga cenderung menarik diri dari pergaulan. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.
Ia menyebut sekitar 62 persen masyarakat Indonesia pernah mengalami rasa kesepian dalam hidupnya. Kondisi itu dinilai menjadi perhatian serius karena dapat memicu kecemasan, stres, hingga menurunkan kualitas hidup secara menyeluruh.
“Sering kali justru kitalah yang menciptakan rasa kesepian itu sendiri. Hal ini terjadi karena kita memilih untuk menarik diri dan merasa sudah cukup puas hanya dengan berinteraksi di dalam dunia maya melalui gawai,” ungkapnya.
Diana menjelaskan, kesepian tidak selalu identik dengan hidup seorang diri. Banyak orang yang tinggal bersama keluarga atau kerabat, namun tetap merasa hampa karena tidak memiliki kedekatan emosional yang mendalam.
Menurutnya, budaya gotong royong dan kebiasaan berkumpul yang masih kuat di Indonesia menjadi modal sosial penting untuk mencegah fenomena kesepian semakin meluas.
“Kita adalah rajanya diri kita sendiri, termasuk dalam hal mengatur dan mengontrol penggunaan gawai. Jangan sampai terbalik, kita yang justru dikendalikan oleh teknologi,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Diana mengimbau masyarakat mulai membangun hubungan sosial yang sehat dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan positif di lingkungan sekitar.
“Ketika mulai merasa kesepian, jangan hanya diam dan memendam perasaan itu. Segera cari kegiatan positif, temui orang lain, dan bangunlah hubungan yang hangat,” jelasnya.
Selain generasi muda, kelompok lanjut usia (lansia) juga dinilai rentan mengalami kesepian akibat minimnya interaksi sosial serta keterbatasan dalam mengakses teknologi. (frchn)