GRESIK, PustakaJC.co – Memiliki tubuh langsing sering kali dianggap sebagai tanda seseorang berada dalam kondisi sehat. Namun, anggapan tersebut tidak selalu benar. Para ahli kesehatan mengingatkan adanya kondisi yang dikenal sebagai skinny fat, yakni seseorang yang memiliki berat badan normal atau terlihat kurus, tetapi menyimpan kadar lemak tubuh yang tinggi dengan massa otot yang rendah.
Kondisi tersebut kerap luput dari perhatian karena penampilannya tidak menunjukkan tanda-tanda kelebihan berat badan. Padahal, komposisi tubuh yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik yang umumnya juga dialami oleh penderita obesitas. Dilansir dari gresiksatu.com, Minggu, (2/8/2026).
Pada kondisi skinny fat, lemak cenderung menumpuk di area perut atau di sekitar organ-organ vital yang dikenal sebagai lemak visceral. Penumpukan lemak jenis ini dinilai lebih berbahaya dibandingkan lemak yang berada di bawah kulit karena berkaitan erat dengan gangguan kesehatan jangka panjang.
Seseorang yang mengalami skinny fat umumnya memiliki ciri-ciri seperti massa otot yang rendah, tubuh terasa lemah, stamina mudah menurun, hingga perut tampak lebih buncit meski berat badan masih tergolong normal. Akibatnya, kemampuan tubuh dalam membakar kalori dan menjaga metabolisme menjadi tidak optimal.
Selain berdampak pada kebugaran, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes melitus tipe 2, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, hingga resistensi insulin. Risiko tersebut muncul akibat tingginya kadar lemak visceral yang dapat mengganggu fungsi organ dan proses metabolisme dalam tubuh.
Karena itu, menjaga angka timbangan saja tidak cukup untuk menilai kondisi kesehatan. Komposisi tubuh, terutama keseimbangan antara massa otot dan kadar lemak, menjadi indikator yang tidak kalah penting untuk diperhatikan.
Pencegahan skinny fat dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat secara konsisten. Masyarakat dianjurkan rutin melakukan aktivitas fisik dengan mengombinasikan latihan kardio dan latihan beban untuk membantu meningkatkan massa otot sekaligus mengurangi lemak tubuh.
Selain olahraga, asupan gizi juga berperan penting. Konsumsi makanan tinggi protein, sayur, buah, dan sumber serat perlu diperbanyak, sementara makanan tinggi gula, minuman manis, serta makanan ultra-proses sebaiknya dibatasi agar penumpukan lemak tidak semakin meningkat.
Istirahat yang cukup, minimal tujuh jam setiap malam, juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh. Di samping itu, pemeriksaan komposisi tubuh menggunakan body fat analyzer atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui kondisi tubuh secara lebih akurat dibanding hanya mengandalkan berat badan atau indeks massa tubuh (BMI).
Dengan memahami kondisi skinny fat, masyarakat diharapkan tidak hanya berfokus pada penampilan fisik atau angka timbangan semata. Menjaga keseimbangan antara massa otot, kadar lemak, pola makan bergizi, serta aktivitas fisik yang rutin menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit metabolik dan menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (ivan)