MALANG, PustakaJC.co – Secangkir kopi kini tidak hanya menjadi teman untuk mengusir kantuk. Bagi sebagian Generasi Z, minum kopi juga menjadi bagian dari rutinitas untuk menjaga fokus, menikmati waktu sendiri hingga membantu membangun suasana hati di tengah aktivitas yang padat.
Kebiasaan tersebut terlihat pada mahasiswa yang menjadikan kopi sebagai bagian dari keseharian. Di tengah tuntutan kuliah, pekerjaan, maupun aktivitas sosial, menikmati kopi menjadi bentuk sederhana untuk memberikan jeda sebelum kembali menjalani rutinitas. Dilansir dari kompas.com, Sabtu, (22/8/2026).
Secara ilmiah, kafein dalam kopi memang memiliki efek stimulan yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan membantu konsentrasi. Sejumlah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara konsumsi kopi atau kafein dengan suasana hati yang lebih baik, meski temuan tersebut tidak berarti kopi dapat digunakan sebagai terapi untuk masalah kesehatan mental.
Karena itu, anggapan bahwa kopi dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman setelah beraktivitas memiliki dasar yang cukup masuk akal. Efek kafein dapat membuat seseorang merasa lebih waspada dan tidak mudah mengantuk.
Namun, manfaat tersebut tetap perlu diimbangi dengan pola konsumsi yang bijak. Terlalu banyak kafein justru dapat menimbulkan efek seperti jantung berdebar, rasa gelisah, sakit kepala hingga gangguan tidur pada sebagian orang.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menyebut konsumsi kafein hingga sekitar 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada kebanyakan orang dewasa sehat. Jumlah kafein dalam secangkir kopi sendiri dapat berbeda-beda tergantung jenis, ukuran sajian dan cara penyeduhannya.
Artinya, bukan sekadar seberapa sering seseorang minum kopi, tetapi juga bagaimana kopi tersebut dikonsumsi.
Kopi dengan tambahan gula, sirup atau krimer dalam jumlah besar tentu memiliki komposisi berbeda dibanding kopi hitam tanpa tambahan pemanis. Karena itu, memilih ukuran sajian yang sesuai dan memperhatikan tambahan gula dapat menjadi bagian dari kebiasaan ngopi yang lebih sehat.
Selain itu, waktu minum juga perlu diperhatikan. Kafein dapat mengganggu tidur pada orang yang sensitif terhadap efeknya. Padahal, tidur yang cukup merupakan bagian penting dari menjaga kondisi fisik dan mental.
Dengan demikian, menjadikan kopi sebagai bagian dari self-care boleh saja selama tidak berlebihan. Secangkir kopi dapat menjadi momen sederhana untuk beristirahat, menikmati suasana dan mengembalikan fokus sebelum kembali beraktivitas.
Pada akhirnya, merawat diri tidak selalu harus dilakukan melalui sesuatu yang mahal. Bagi sebagian Gen Z, kebahagiaan mungkin cukup ditemukan dalam ritual sederhana: secangkir kopi, waktu tenang dan kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan.
Yang terpenting, kopi bukan pengganti tidur, pola makan seimbang maupun penanganan profesional ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental. Kopi dapat menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi tetap perlu ditempatkan secara proporsional. (ivan)