SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat menjaga kelestarian lingkungan dengan menanam dan merawat pohon, bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon, Sabtu, (10/1/2026).
Menurut Khofifah, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti menanam pohon di sekitar rumah, kawasan pantai, lereng gunung, hingga reboisasi hutan. Dilansir dari antaranews.com, Minggu, (11/1/2026).
“Menanam pohon adalah bagian dari ikhtiar kita menjaga alam. Ketika alam kita jaga, maka alam pun akan menjaga kita,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Ia mencontohkan komitmen pribadi dengan rutin melakukan penanaman pohon dan mangrove di berbagai wilayah Jawa Timur. Penanaman mangrove terakhir dilakukan di Watu Mejo, Pacitan, akhir 2025, serta sebelumnya di Bangkalan dalam rangka Festival Mangrove.
Khofifah menyebut mangrove memiliki peran strategis karena mampu menyerap emisi karbon dioksida hingga lima kali lebih besar dibanding jenis pohon lainnya.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024, luas mangrove di Jawa Timur meningkat 3.618 hektare atau 13,29 persen dalam empat tahun terakhir, dari 27.221 hektare pada 2021 menjadi 30.839,3 hektare. Capaian tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan luasan mangrove terbesar di Pulau Jawa.
Di sektor daratan, luas lahan kritis juga menurun dari 432.225 hektare pada 2018 menjadi 370.544 hektare pada 2024, mencerminkan konsistensi upaya pelestarian hutan dan lahan.
Selain berdampak ekologis, penanaman pohon juga dinilai memiliki nilai ekonomi melalui perdagangan karbon dan hilirisasi kehutanan. Pada 2025, Nilai Transaksi Ekonomi Kelompok Tani Hutan (NTE-KTH) Jawa Timur mencapai Rp1,63 triliun atau 48,15 persen dari total nasional.
Sementara Nilai Ekonomi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Jawa Timur tercatat Rp447,22 miliar atau 29,36 persen dari capaian nasional, tertinggi di Indonesia.
Khofifah juga mengajak masyarakat mengganti tradisi bunga papan dalam berbagai seremoni dengan pohon hidup.
“Bisa dikonversi menjadi pohon hidup, sehingga hidup itu menghidupkan, urip gawe urup,” tuturnya.
Ia menegaskan penanaman pohon penting dalam mitigasi bencana, terutama di wilayah rawan longsor dan banjir, sekaligus memperkuat kualitas daerah aliran sungai. (ivan)