Lebaran 2026 Dongkrak 5,31 Juta Kunjungan Pemprov Jatim Sebut Jadi Sinyal Kuat Pergerakan Ekonomi

pemerintahan | 31 Maret 2026 10:18

Lebaran 2026 Dongkrak 5,31 Juta Kunjungan Pemprov Jatim Sebut Jadi Sinyal Kuat Pergerakan Ekonomi
Aftabuddin RZ, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim. (dok bhirawa)

SURABAYA, PustakaJC.co – Lonjakan kunjungan wisatawan selama libur Lebaran 2026 di Jawa Timur menembus angka ±5,31 juta orang. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan, angka tersebut bukan sekadar statistik mobilitas, melainkan indikator awal pergerakan ekonomi riil di masyarakat.

 

Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Aftabuddin Rijaluzzaman, menjelaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan terus diperbarui.

 

“Angka ±5,31 juta kunjungan merupakan hasil kompilasi sementara dari laporan 38 kabupaten/kota. Pendataan dilakukan harian selama periode 14 Maret hingga 5 April 2026 melalui sistem shared data,” ujar Aftabuddin Rijaluzzaman, saat di wawancarai Jurnalis PustakaJC.co, Selasa, (31/3/2026).

 

 

Ia menambahkan, mekanisme ini mengacu pada Surat Edaran Menteri Pariwisata RI serta arahan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, guna memastikan penyelenggaraan wisata yang aman dan terpantau selama Lebaran.

 

Meski demikian, validasi final tetap menunggu rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS). 

 

“Secara statistik formal, data komprehensif akan dirilis dengan jeda sekitar dua bulan. Artinya, data final Maret 2026 baru keluar Mei mendatang,” jelasnya.

 

Lebih dari sekadar angka kunjungan, kenaikan sekitar 18 persen dibanding Lebaran 2025 dinilai memiliki korelasi kuat dengan aktivitas ekonomi.

 

Biro Perekonomian mencatat, penyerapan uang kartal di Jawa Timur selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026 mencapai Rp21,63 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya kebutuhan likuiditas untuk konsumsi dan mobilitas masyarakat.

 

Selain itu, transaksi digital melalui QRIS telah menembus Rp13,70 triliun per Februari 2026. 

 

“Ini menjadi sinyal awal bahwa aktivitas ekonomi, termasuk di kawasan wisata dan sektor UMKM, mengalami akselerasi signifikan,” tegas Aftabuddin yang juga pernah menjadi Pjs Bupati Situbondo.

 

 

Dalam mengukur dampak ekonomi sektor pariwisata, Pemprov Jatim tidak hanya bertumpu pada jumlah wisatawan. Sejumlah indikator lain turut dianalisis, antara lain:

tingkat okupansi hotel dan akomodasi,

rata-rata pengeluaran wisatawan (makan-minum, belanja UMKM, transportasi),

hingga kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga dalam struktur PDRB.

 

“Pariwisata menjadi pengungkit karena langsung menyentuh konsumsi masyarakat, yang merupakan komponen terbesar dalam ekonomi daerah,” ujarnya.

 

Secara spasial, dampak lonjakan kunjungan tidak merata. Aktivitas ekonomi meningkat signifikan di beberapa klaster utama, seperti:

kawasan wisata alam Bromo–Tengger–Semeru dan Ijen,

wisata religi di Gresik, Lamongan, dan Tuban,

serta wisata keluarga dan urban di Kota Batu dan Surabaya.

 

Wilayah-wilayah tersebut tercatat mengalami peningkatan pergerakan wisatawan sekaligus transaksi ekonomi selama periode Lebaran.

 

Pemprov Jatim menyadari bahwa momentum Lebaran bersifat musiman. Karena itu, sejumlah strategi disiapkan agar dampaknya berkelanjutan.

 

Di antaranya:

 

mendorong digitalisasi transaksi UMKM melalui QRIS,

memperluas kalender event wisata sepanjang tahun,

serta memperkuat konektivitas dan infrastruktur destinasi.

 

 

 

“Tujuannya agar lonjakan ini tidak berhenti sebagai fenomena musiman, tetapi berkontribusi pada kinerja ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan,” tukas Kepala Biro Perekonomian ini.

 

Dengan berbagai indikator tersebut, lonjakan kunjungan wisatawan Lebaran 2026 dinilai sebagai sinyal positif bagi perekonomian Jawa Timur.

 

Jika dikelola secara konsisten dan terarah, sektor pariwisata diyakini mampu menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi daerah, sekaligus memperkuat daya tahan UMKM dan konsumsi masyarakat. (ivan)