TUBAN, PustakaJC.co - Sri Wahyuni menegaskan komitmen DPRD Jawa Timur dalam mengawal proyek normalisasi Afvour Macanan di Daerah Irigasi Merakurak, Kabupaten Tuban, sebagai langkah strategis memperkuat sektor pertanian dan menjaga ketahanan pangan daerah.
Pernyataan itu disampaikan Sri Wahyuni saat menghadiri konsultasi publik normalisasi Afvour Macanan di Balai Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Kamis, (21/5/2026).
“Kehadiran kami hari ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini adalah bentuk komitmen nyata DPRD Provinsi Jawa Timur untuk memastikan suara dan hak warga di sepanjang aliran Afvour Macanan benar-benar didengar dan diakomodasi,” ujar Sri Wahyuni, dikutip dari jatimpos.co, Sabtu, (23/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Komisi D DPRD Jatim, Bakorwil II Bojonegoro, Dinas PU Sumber Daya Air Jatim, Dinas PUPR Kabupaten Tuban, Forkopimcam Merakurak, kepala desa, serta masyarakat dari desa terdampak.
Menurut Sri Wahyuni, kondisi saluran irigasi yang mengalami pendangkalan dan penyempitan selama beberapa tahun terakhir menyebabkan genangan air saat musim hujan sekaligus menghambat distribusi air menuju lahan pertanian warga.
“Kita semua merasakan dampaknya ketika saluran air mendangkal dan menyempit. Tidak hanya menimbulkan genangan saat hujan, tetapi juga memengaruhi pengairan sawah masyarakat. Maka normalisasi ini menjadi langkah penting demi menjaga produktivitas pertanian dan keselamatan lingkungan,” katanya.
Ia menjelaskan, proyek normalisasi akan mencakup wilayah Desa Tuwiri Wetan, Desa Sambonggede, dan Desa Sumber dengan panjang pengerjaan sekitar 4 kilometer serta lebar saluran antara 8 hingga 10 meter.
Proyek yang direncanakan melalui Anggaran 2026 tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar empat bulan dengan estimasi volume pekerjaan mencapai 15 ribu meter persegi.
Sri Wahyuni menilai normalisasi saluran irigasi bukan hanya sekadar pengerukan, tetapi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur pertanian yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Saluran irigasi memiliki peran vital bagi masyarakat. Ketika aliran air lancar, sawah bisa produktif, hasil panen meningkat, dan ekonomi warga ikut bergerak,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya pengawasan selama proses pengerjaan proyek berlangsung, terutama terkait penataan hasil galian, akses alat berat, dan potensi gangguan terhadap aktivitas warga sekitar.
“Penataan hasil galian jangan sampai mengganggu lahan produktif warga, begitu juga akses alat berat harus diatur agar tidak menghambat aktivitas masyarakat,” ucapnya.
Sri Wahyuni juga mengapresiasi rencana pemanfaatan material galian sebagai tanggul untuk memperkuat struktur saluran sekaligus mengurangi risiko luapan air saat musim hujan.
“Pemanfaatan hasil galian menjadi tanggul merupakan langkah positif. Selain memperkuat struktur di sekitar saluran, juga membantu mengurangi potensi dampak lingkungan,” tuturnya.
Dalam forum konsultasi publik tersebut, ia turut mendorong masyarakat agar aktif menyampaikan masukan dan aspirasi sebelum proyek dimulai.
“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang berbasis partisipasi masyarakat. Normalisasi ini adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kemaslahatan bersama,” katanya.
Ia berharap proyek normalisasi Afvour Macanan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi sedimentasi dan banjir di wilayah Merakurak sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.
“Kami di DPRD Jawa Timur akan terus mengawal agar anggaran Tahun 2026 ini tereksekusi secara transparan, tepat sasaran, dan tepat waktu,” pungkasnya. (ivan)