Sikapi Anomali Iklim, BMKG Prediksi Hujan di Jatim Baru Turun Akhir Tahun

pemerintahan | 30 September 2026 07:26

Sikapi Anomali Iklim, BMKG Prediksi Hujan di Jatim Baru Turun Akhir Tahun
ILUSTRASI hujan. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur bakal mengalami keterlambatan hingga Desember 2026. Penundaan ini terjadi akibat dampak anomali iklim global El Nino yang terus menguat dan memperpanjang potensi kekeringan.

 

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Jawa Timur, Anung Suprayitno, menjelaskan bahwa sebanyak 68 dari 74 Zona Musim (ZOM)—atau sekitar 90,6 persen wilayah Jawa Timur—baru akan merasakan rintik hujan pada pengujung tahun. Dilansir dari jawapos.com, Rabu, (30/9/2026).

 

Bahkan, terdapat sembilan ZOM yang diprediksi mengalami keterlambatan musim hujan lebih dari dua bulan dari jadwal normalnya. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Malang, Lumajang, hingga Jember.

 

"Kalau split tiga bulan, Jawa Timur sendiri awal musim hujan di bulan November hanya sebagian kecil saja yang akan memasuki musim hujan," kata Anung dalam konferensi pers daring, Selasa (29/9).

 

 

Ia menambahkan, daerah dengan karakter iklim yang relatif kering seperti Kabupaten Situbondo bahkan diprakirakan baru diguyur hujan pada Januari 2027.

 

Keterlambatan cukup parah ini dipicu oleh indeks El Nino yang telah menyentuh status sangat kuat, yaitu mencapai angka 2,63 sepanjang periode Juli hingga September 2026. Menurut BMKG, hujan baru mulai menyapa kawasan yang sangat terbatas pada dasarian III atau sepuluh hari terakhir November. Puncak penyebaran musim hujan secara merata baru akan berlangsung bertahap sepanjang Desember.

 

Selain El Nino, BMKG mewaspadai ancaman interaksi antara El Nino Southern Oscillation (ENSO) di Pasifik dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia yang berpotensi memperparah krisis air.

 

 

"Yang kami khawatirkan adalah interaksi antara indeks ENSO di Pasifik dan dipole mode semakin menguat, justru memperparah musim ini makin kering," ungkap Anung.

 

Kendati demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Anung menegaskan, hujan dipastikan tetap akan turun karena faktor penentu utama musim di Jawa Timur adalah pergerakan angin monsun. Anomali El Nino dan IOD hanya menggeser jadwal kedatangan serta durasi musim hujan. (ivan)