SURABAYA, PustakaJC.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kawasan pegunungan. Kebakaran di kompleks Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan, masih berlangsung dengan sekitar 70 titik api terpantau pada Selasa (20/10/2026) pagi. Titik api bahkan dilaporkan bergerak ke arah selatan menuju Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, dengan jarak sekitar 2–3 kilometer dari permukiman warga.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyatakan tim gabungan terus melakukan pemantauan dan upaya pencegahan penyebaran api di kawasan terdampak. Penanganan dilakukan melalui jalur darat dengan melibatkan BPBD Jatim, BPBD Kabupaten Pasuruan, pengelola kawasan hutan, serta unsur terkait lainnya.
Berdasarkan pemantauan BPBD Jatim, titik api terpantau di Puncak Cemoro Mencil dan Puncak Limas, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Pergerakan api ke arah Singosari menjadi perhatian karena kebakaran masih berlangsung dan berpotensi meluas mengikuti kondisi vegetasi, medan, serta arah angin.
“Titik api terpantau di Puncak Cemoro Mencil dan Puncak Limas, di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, terpantau bergerak ke arah selatan menuju wilayah Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang,” kata Gatot, dilansir dari laman resmi BPBD Jatim, Kamis (22/10/2026).
Penanganan karhutla di kawasan tersebut telah dilakukan sejak Jumat (16/10/2026). Tim gabungan terus memantau perkembangan api, melakukan asesmen kondisi lapangan, dan menyiapkan langkah pengendalian untuk menghambat perluasan kebakaran ke wilayah lain.
Salah satu perhatian utama adalah kawasan permukiman yang berjarak sekitar 2–3 kilometer dari titik api. Meski aktivitas masyarakat di sekitar lokasi dilaporkan belum terdampak secara langsung, jarak tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pelaksanaan pemantauan dan upaya antisipasi.

Senada Gatot, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno, mengatakan titik api masih terdeteksi melalui pemantauan radar Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi). Kebakaran yang dilaporkan terjadi di Gunung Ringgit tersebut masih memerlukan penanganan dan pemantauan lanjutan.
“Berdasarkan pantauan dari radar Sipongi saat ini di wilayah Arjuno-Welirang masih terdapat titik api,” kata Satriyo.
Satriyo menegaskan bahwa meskipun titik api berada relatif dekat dengan permukiman, aktivitas masyarakat di sekitar lokasi belum terdampak secara langsung berdasarkan laporan yang diterima BPBD Jatim.
“Jarak titik api dari permukiman warga sekitar 2–3 km dan aktivitas masyarakat sekitar tidak terdampak secara langsung,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pemantauan terhadap arah pergerakan api dan perkembangan situasi di sekitar kawasan menjadi bagian penting dalam penanganan. BPBD Jatim bersama Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Pasuruan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengikuti perkembangan di lapangan.
Dalam penanganan karhutla Arjuno-Welirang, tim gabungan mengandalkan operasi darat untuk menjangkau lokasi yang memungkinkan dilakukan pemadaman langsung. Upaya ini disesuaikan dengan kondisi medan pegunungan, akses menuju titik api, serta tingkat risiko yang dihadapi personel.
Selain pemadaman secara langsung, petugas melakukan pembuatan sekat bakar atau ilaran di sekitar Puncak Cemoro Mencil dan Puncak Limas. Langkah ini ditujukan untuk menghambat pergerakan api dan mengurangi kemungkinan kebakaran merembet ke area lain.
Sekat bakar dilakukan dengan memutus atau mengurangi bahan bakar vegetasi pada jalur tertentu. Penerapannya memerlukan perhitungan terhadap arah penyebaran api, karakteristik vegetasi, dan kondisi medan agar upaya pengendalian tidak membahayakan petugas.
Tim gabungan yang terlibat dalam penanganan meliputi BPBD Jatim, Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Perum Perhutani, BPBD Kabupaten Pasuruan, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lokajaya Binangun, serta relawan. Koordinasi lintas unsur diperlukan untuk mendukung pemantauan, pengaturan personel, dan pelaksanaan upaya pemadaman sesuai kebutuhan di lapangan.
Tantangan utama dalam penanganan kebakaran di kawasan pegunungan adalah keterbatasan akses menuju sejumlah titik api. Lokasi yang berada di lereng dan punggungan bukit membutuhkan kesiapan fisik, keterampilan teknis, serta pengaturan pergerakan personel yang cermat.
Karena itu, jumlah personel yang diterjunkan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan penanganan. Keterlibatan masyarakat serta relawan juga perlu diimbangi dengan pengaturan tugas dan perhatian terhadap keselamatan selama operasi berlangsung.
Di tengah upaya pemadaman darat, penggunaan metode water bombing atau penjatuhan air menggunakan helikopter belum dilakukan pada perkembangan yang dilaporkan Selasa, 20 Oktober lalu.
Gatot Soebroto menjelaskan bahwa helikopter yang dibutuhkan masih difokuskan untuk menangani karhutla di Kalimantan. Dengan kondisi tersebut, penanganan di Arjuno-Welirang masih mengandalkan pemantauan dan operasi darat sesuai jangkauan serta kondisi medan.
“Water bombing belum dilakukan, sebab helikopter masih fokus menangani karhutla di Kalimantan,” kata Gatot.
Belum dilaksanakannya pemadaman melalui udara menjadi salah satu kendala dalam menjangkau titik api yang sulit diakses dari darat. Meski demikian, operasi darat tetap dilanjutkan dengan mengutamakan pemantauan perkembangan api, pemadaman pada lokasi yang memungkinkan, serta pencegahan penyebaran melalui pembuatan sekat bakar.

Kebutuhan terhadap metode pemadaman tertentu bergantung pada perkembangan situasi, ketersediaan sarana, kondisi cuaca, serta hasil asesmen petugas. Oleh karena itu, koordinasi antarlembaga diperlukan untuk menentukan strategi yang sesuai dengan kondisi kebakaran dan kemampuan sumber daya yang tersedia.
Perkembangan karhutla di Arjuno-Welirang juga dilaporkan merembet ke area perkebunan warga di Petungombo, Desa Tambaksari, Kabupaten Pasuruan. Kondisi tersebut menambah perhatian terhadap potensi dampak kebakaran di luar kawasan hutan.
BPBD Jatim terus memantau perkembangan titik api dan berkoordinasi dengan unsur terkait untuk mengantisipasi perluasan kebakaran. Pemantauan diarahkan pada lokasi yang berpotensi menjadi jalur pergerakan api, termasuk kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
Di sisi lain, jumlah titik api yang terpantau masih berubah-ubah. Pada Selasa pagi, sekitar 70 titik api terdeteksi, turun dari laporan sehari sebelumnya yang mencapai lebih dari 100 titik. Namun, perubahan jumlah titik api tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator bahwa kebakaran telah terkendali.
Perkembangan tersebut perlu dibaca bersama kondisi lapangan, lokasi titik api, arah pergerakan kebakaran, dan hasil penanganan yang dilakukan tim gabungan. Selama masih terdapat titik api aktif, pemantauan dan upaya pengendalian tetap diperlukan untuk mencegah munculnya kembali api atau meluasnya kebakaran.
Selain Arjuno-Welirang, laporan perkembangan BPBD Jatim pada Selasa (20/10/2026) menyebut penanganan karhutla di sejumlah kawasan lain, yakni Gunung Bromo, Gunung Sigira di wilayah Tahura Raden Soerjo, serta Gunung Argopuro di Kabupaten Situbondo.
Di kawasan Bromo, kebakaran pada area Bukit Kembang dan sisi timur Mentigen dilaporkan telah padam. Meski demikian, kepulan asap masih terpantau di wilayah Penanjakan sehingga pemantauan dan pembasahan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali api. Luas area yang terbakar dilaporkan mencapai 75,37 hektare.
Sementara itu, di kawasan Gunung Sigira, Kabupaten Mojokerto, titik api terpantau di atas Surga Cendono, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang. Lokasi kebakaran berada di lereng dan punggungan bukit yang sulit dijangkau, dengan jarak sekitar 5–6 kilometer dari permukiman warga.
Adapun di kawasan Gunung Argopuro, Kabupaten Situbondo, titik api masih terpantau dan penanganan dilakukan bersama BPBD setempat serta unsur terkait. Lokasi kebakaran diperkirakan berjarak sekitar 15–20 kilometer dari permukiman warga. Kondisi medan yang terjal dan sulit dijangkau membuat pemantauan menjadi bagian penting dari upaya pengendalian.
Perbedaan kondisi geografis di masing-masing lokasi membuat penanganan perlu disesuaikan dengan akses, sebaran api, dan tingkat risiko. BPBD Jatim bersama BPBD kabupaten dan unsur terkait terus mengoordinasikan pemantauan serta upaya penanganan berdasarkan perkembangan yang diterima.
Hingga laporan perkembangan pada Selasa (20/10/2026), penyebab kebakaran di kawasan Arjuno-Welirang masih dalam proses penyelidikan. Luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut juga masih dalam pendataan, sehingga angka final belum dapat dipastikan.
BPBD Jatim terus melakukan koordinasi dengan BPBD kabupaten, petugas kehutanan, pengelola kawasan konservasi, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pemantauan titik api, pelaksanaan pemadaman, serta pengendalian penyebaran kebakaran.
Belum adanya laporan korban jiwa dalam perkembangan yang disampaikan tidak menghilangkan kebutuhan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama karena titik api berada relatif dekat dengan permukiman. Pemantauan kondisi masyarakat dan perubahan arah penyebaran api tetap menjadi bagian penting dari penanganan.
Dengan masih terdeteksinya titik api aktif di Arjuno-Welirang dan beberapa kawasan pegunungan lainnya, penanganan karhutla di Jawa Timur masih berlangsung. BPBD Jatim bersama tim gabungan melanjutkan operasi darat, pemantauan, dan pencegahan penyebaran api sembari menunggu perkembangan terbaru kondisi lapangan serta hasil pendataan luas area terdampak. (int)