SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kerajaan Maroko memperkuat kemitraan strategis melalui penyusunan roadmap kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, industri manufaktur, pertanian, perikanan, pendidikan hingga pengembangan smart city. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi fondasi kolaborasi jangka panjang yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Surabaya, Senin, (3/8/2026).
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Republik Indonesia, Ridouane Houssaini, di Gedung Negara Grahadi. Dilansir dari jatimpos.co, Selasa, (4/8/2026).
Gubernur Khofifah mengatakan, pembahasan dalam pertemuan tersebut mencakup berbagai peluang kerja sama strategis yang dapat segera ditindaklanjuti. Selain sektor perdagangan dan industri manufaktur, kedua pihak juga membahas penguatan kerja sama di bidang agro, perikanan, pendidikan, hingga peluang pemberian beasiswa bagi mahasiswa asal Jawa Timur.
“Sore ini kami kedatangan Duta Besar Kerajaan Maroko. Kami membahas banyak hal strategis di sektor perdagangan, industri manufaktur, kemudian sektor agro, perikanan juga, pendidikan termasuk beasiswa ke Maroko, dan banyak hal strategis yang lain,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, penyusunan roadmap menjadi langkah penting agar seluruh peluang kerja sama dapat diwujudkan secara terarah, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun dunia usaha di kedua negara.
Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Republik Indonesia, Ridouane Houssaini, menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis Maroko di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, sejumlah sektor prioritas telah diidentifikasi sebagai fokus kerja sama.
“Di dalam tadi kita mendiskusikan kesempatan untuk melakukan kerja sama antara Maroko dan Jawa Timur dalam hal ekonomi, perdagangan, pertukaran kebudayaan, dan pendidikan, kemudian partnership dalam bidang smart city,” kata Houssaini melalui penerjemah.
Tak hanya kerja sama antarpemerintah, kedua belah pihak juga membahas peluang kolaborasi antardaerah melalui skema sister city maupun sister province. Skema tersebut dinilai dapat memperluas ruang kolaborasi dalam bidang ekonomi, investasi, budaya, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Kita punya banyak kesamaan dan di dalam kita membahas kerangka kerja apa yang akan kita lakukan ke depannya, partnership seperti apa yang akan kita lakukan, dan semoga itu adalah win-win cooperation,” ujarnya.
Selain itu, Maroko juga membuka peluang yang lebih luas bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia melalui program beasiswa. Bersamaan dengan itu, kedua pihak tengah mempersiapkan penyusunan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) sebagai dasar penguatan hubungan ekonomi dan perdagangan.
“Maroko menawarkan beasiswa untuk murid-murid yang ada di Jawa Timur, dan kita sedang mengembangkan MoU tersebut,” katanya.
Khofifah menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Maroko bukanlah hubungan yang baru. Menurutnya, kedekatan historis kedua negara telah terjalin sejak Konferensi Asia Afrika dan menjadi modal penting untuk memperkuat kemitraan di berbagai sektor.
“Kerja sama antara Indonesia dan Maroko ini sangat lama sejak dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika. Betapa bahwa antara Maroko dan Indonesia sama-sama harus bergandengan tangan untuk bisa mendapatkan kedaulatan yang lebih substantif dari kemerdekaan yang sudah kita peroleh. Oleh karena itu, Presiden Soekarno juga tahun 60 ke Kerajaan Maroko,” tutur Khofifah.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyoroti sejarah panjang dunia pendidikan di Maroko, khususnya keberadaan Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatima Al-Fihri. Ia menilai tokoh perempuan tersebut menjadi inspirasi penting dalam pengembangan pendidikan sekaligus pemberdayaan perempuan.
“Perempuan Maroko itu sudah punya intelektualitas yang cukup tinggi. Dari warisan kekayaan yang luar biasa, dedikasinya adalah mendirikan masjid dan kemudian mendirikan perguruan tinggi yang memiliki sejarah sangat kuat. Jadi, pemberdayaan perempuan di sektor pendidikan di Maroko sesungguhnya sudah sangat maju sekali,” ucapnya.
Pada akhir pertemuan, Khofifah turut menyampaikan apresiasi atas ucapan belasungkawa yang disampaikan Pemerintah Maroko terkait musibah tenggelamnya KMP Mutiara Sentosa II di perairan Madura. Ia berharap seluruh proses evakuasi berjalan lancar dan para korban memperoleh penanganan terbaik.
“Kami menyampaikan terima kasih atas kunjungan kehormatan ini, sekaligus ungkapan duka cita dari Yang Mulia Duta Besar Kerajaan Maroko. Mudah-mudahan yang wafat dipanggil dalam keadaan husnul khatimah, dan mereka yang sekarang sedang dalam proses evakuasi mudah-mudahan semua dalam keadaan sehat dan baik,” pungkasnya. (ivan)