SURABAYA, PustakaJC.co — Tak banyak yang tahu, sebelum menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia, kawasan Sukorejo, Situbondo dulu adalah hutan belantara yang dianggap angker. Tak seorang pun berani masuk ke wilayah itu, hingga pada tahun 1908 M, seorang ulama bernama Raden Syamsul Arifin bersama putranya, KH. As’ad Syamsul Arifin, datang untuk membuka lahan dan mendirikan pondok pesantren.
Kini, lebih dari seabad kemudian, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menjadi simbol kebangkitan pendidikan Islam di Jawa Timur. Tahun ini, pesantren tersebut kembali menorehkan prestasi dengan meraih Pesantren Award 2025 kategori Pesantren Transformatif, atas inovasi di bidang pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Berdirinya pesantren ini berawal dari hasil istikharah KH. As’ad Syamsul Arifin. Setelah mendapat petunjuk, beliau bersama beberapa santri dari Madura membabat hutan di Dusun Sukorejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih.
Beberapa gubuk sederhana didirikan sebagai rumah, musala, dan asrama santri. Dari sinilah, perjalanan panjang pesantren dimulai.
Awalnya, KH. Syamsul Arifin masih bolak-balik dari Madura ke Jawa untuk berdakwah. Barulah pada tahun 1914, kegiatan pesantren berjalan penuh, dan tahun itu pula ditetapkan sebagai tahun berdirinya Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
KH. As’ad Syamsul Arifin lahir di Makkah tahun 1897 dan wafat di Situbondo pada 4 Agustus 1990.
Beliau merupakan keturunan Bindoro Saud, Bupati Sumenep abad ke-18, yang juga masih nasab dengan Sunan Kudus, salah satu Wali Songo.
Nama KH. As’ad dikenal bukan hanya karena ilmunya, tapi juga karena perannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia terlibat dalam Agresi Militer Belanda, pengusiran Jepang, hingga menjadikan pesantrennya sebagai pusat perjuangan para santri.
Bukan hanya itu, KH. As’ad juga memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau dipercaya oleh gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, untuk menghantarkan tongkat dan ayat Al-Qur’an kepada KH. Hasyim Asy’ari — simbol berdirinya NU pada tahun 1926.
“Kiai As’ad bukan sekadar ulama, beliau adalah penggerak sejarah,” ujar salah satu pengajar senior Sukorejo mengenang sosoknya.
Atas dedikasinya, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. As’ad Syamsul Arifin pada tahun 2016.
Pada masa kepemimpinannya (1951–1990), KH. As’ad memperkenalkan sistem pendidikan berjenjang di pesantren.
Metode tradisional seperti sorogan dan bandongan dipadukan dengan sistem sekolah modern agar santri mendapat akses pendidikan yang lebih luas.
Lahir berbagai lembaga pendidikan formal seperti:
Madrasah Ibtidaiyah (MI)
MTs dan MA Salafiyah Syafi’iyah
Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) – 1968
Ma’had Aly – 1990
SMK dan Madrasatul Qur’an
Seluruh lembaga itu kini bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, yang telah berbadan hukum sejak 1970.
Lebih dari satu abad berdiri, Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo telah menjadi pusat pendidikan, sosial, dan perjuangan umat.
Ribuan santri dari berbagai daerah menimba ilmu di pesantren ini — meneladani semangat KH. As’ad Syamsul Arifin yang berjuang, berilmu, dan berkhidmat untuk negeri.
Dari hutan sunyi menjadi pusat peradaban.
Dari seorang kiai sakti lahir ribuan santri hebat.
(int)