Syaikhona Kholil Bangkalan

Resmi Jadi Pahlawan Nasional 2025, Guru Para Ulama dan Bapak Pesantren Indonesia

tokoh | 10 November 2025 12:14

Resmi Jadi Pahlawan Nasional 2025, Guru Para Ulama dan Bapak Pesantren Indonesia
Dok pustakajc

SURABAYA, PustakaJC.co - Hari Pahlawan 10 November 2025 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Madura dan dunia pesantren. Presiden Prabowo Subianto secara resmi menetapkan KH. Muhammad Kholil Bangkalan atau yang akrab dikenal Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional. Penetapan itu disampaikan langsung di Istana Negara Jakarta, bersama sembilan tokoh lain penerima gelar serupa tahun ini.

 

Nama Syaikhona Kholil sudah lama menjadi legenda di kalangan santri. Beliau bukan hanya ulama besar Madura, tapi juga guru bagi banyak tokoh penting dalam sejarah bangsa, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kini, pengakuan negara akhirnya tiba, menegaskan bahwa perjuangan dan ilmunya menjadi bagian penting dari fondasi spiritual Indonesia.

 

“Negara menghormati jasa para tokoh yang telah membentuk karakter bangsa. KH. Muhammad Kholil Bangkalan adalah simbol keikhlasan dan kecintaan pada tanah air,” ujar Presiden Prabowo dalam pidato resminya.

 

Jejak Sang Ulama Besar dari Madura

 

Syaikhona Kholil lahir di Bangkalan, Madura, 25 Mei 1835 (11 Jumadil Akhir 1235 H) dari pasangan KH. Abdul Latif dan Nyai Kondang. Sejak kecil, beliau dikenal cerdas, tekun, dan memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu agama. Dalam usia muda, ia telah menguasai berbagai kitab klasik, termasuk Nazham Alfiyah Ibnu Malik — kitab tata bahasa Arab yang sulit bahkan bagi ulama senior.

 

Perjalanan menuntut ilmu Syaikhona Kholil membawanya ke sejumlah pesantren ternama di Jawa, seperti Pesantren Langitan (Tuban) dan Pesantren Banyuwangi. Namun dahaga keilmuannya tak berhenti di tanah air. Ia kemudian melanjutkan studi ke Mekkah, pusat ilmu Islam dunia saat itu.

 

Di Tanah Suci, Syaikhona Kholil berguru kepada para ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Zaini Dahlan, dua ulama yang kelak juga menjadi rujukan dunia Islam internasional. Dari merekalah beliau memperdalam berbagai cabang ilmu agama, mulai dari fikih, tauhid, hingga tasawuf.

 

Guru Para Pendiri Bangsa

 

Sepulangnya ke Madura, Syaikhona Kholil mendirikan Pesantren Demangan di Bangkalan. Dari tempat inilah lahir generasi ulama dan pejuang bangsa. Salah satu muridnya yang paling terkenal adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Hubungan guru dan murid antara keduanya begitu erat, dan KH. Hasyim tidak pernah mengambil keputusan besar tanpa restu gurunya.

 

Dikisahkan, ketika KH. Hasyim hendak mendirikan NU pada 1926, ia terlebih dahulu datang ke Bangkalan untuk meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil. Sang guru kemudian memberikan tongkat dan tasbih sebagai simbol restu, pertanda bahwa perjuangan keagamaan dan kebangsaan itu mendapat izin dari beliau.

 

Tak hanya KH. Hasyim Asy’ari, murid-murid Syaikhona Kholil lainnya juga tersebar di berbagai daerah, banyak di antaranya menjadi pendiri pesantren dan pemimpin masyarakat. Karena itu, ia dijuluki “Bapak Pesantren Indonesia”, simbol dari kelahiran sistem pendidikan Islam yang berakar kuat di bumi Nusantara.

 

Ajaran Nasionalisme dari Pesantren

 

Yang menarik, jauh sebelum konsep nasionalisme dikenal luas, Syaikhona Kholil sudah menanamkan nilai cinta tanah air kepada para santrinya. Dalam sejumlah catatannya, beliau menegaskan bahwa “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

 

Pandangan ini menjadi dasar bagi perjuangan kaum santri melawan kolonialisme, bukan dengan senjata semata, tetapi dengan pendidikan dan dakwah yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan.

 

“Beliau mengajarkan bahwa menjadi santri bukan hanya belajar agama, tetapi juga mencintai bangsa. Dari tangan beliau, lahir generasi yang mencintai Indonesia karena Allah,” ujar KH. Ahmad Zaini, pengasuh salah satu pesantren di Bangkalan, dalam sambutan usai doa bersama di makam Syaikhona Kholil.

 

Selain dikenal alim dan kharismatik, Syaikhona Kholil juga dikenal memiliki karamah (keistimewaan spiritual) yang diyakini banyak santrinya. Namun yang paling berharga bukanlah kisah-kisah mistik, melainkan nilai-nilai ketulusan, keilmuan, dan perjuangan yang diwariskan hingga kini.

 

Pengakuan yang Dinantikan Satu Abad

 

Syaikhona Kholil wafat pada 23 April 1925 (29 Ramadhan 1343 H) dalam usia 106 tahun. Tepat satu abad kemudian, tahun 2025, negara akhirnya memberikan penghargaan tertinggi sebagai Pahlawan Nasional.

 

Pengusulan gelar ini sebenarnya sudah bergulir sejak lama. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Nahdlatul Ulama, dan masyarakat Madura berkali-kali menyuarakan pengakuan terhadap jasa besar beliau. Kini, penantian panjang itu berakhir dengan keputusan resmi dari Presiden Prabowo Subianto.

 

Masyarakat Bangkalan menyambut gembira penetapan ini. Sejak pagi, ribuan santri dan warga menggelar tahlil akbar dan doa bersama di Kompleks Makam Syaikhona Kholil di Martajasah, Bangkalan. Spanduk bertuliskan “Akhirnya Negeri Mengakui Gurumu, Ya Syaikhona” membentang di jalan-jalan menuju area makam.

 

Simbol Keilmuan, Keteladanan, dan Spirit Kebangsaan

 

Penetapan Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional menegaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya milik para pejuang bersenjata, tetapi juga para ulama yang mengajarkan ilmu dan menanamkan nilai-nilai keikhlasan.

 

Kini, Syaikhona Kholil sejajar dengan tokoh besar lain dari Jawa Timur seperti Marsinah dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini. Ketiganya menjadi simbol dari tiga wajah perjuangan Indonesia — spiritual, sosial, dan kemanusiaan.

 

Warisan Syaikhona Kholil tidak berhenti pada kitab atau pesantren, tetapi hidup dalam semangat santri di seluruh penjuru negeri. Ia telah menulis sejarah bukan dengan pena, melainkan dengan keteladanan dan ilmu yang terus mengalir.

 

Dan kini, setelah satu abad kepergiannya, bangsa ini akhirnya menunaikan satu janji sejarah: mengabadikan nama Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. (int)