KHR Asnawi Kudus

Pesan Terakhir tentang Kerendahan Hati bagi Warga NU

tokoh | 27 Desember 2025 19:02

Pesan Terakhir tentang Kerendahan Hati bagi Warga NU
KHR Asnawi Kudus berpidato di hadapan muktamirin pada Muktamar ke-22 NU di Jakarta. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co – Nama KHR Asnawi Kudus kembali dikenang sebagai salah satu ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama yang meninggalkan pesan mendalam bagi pengurus dan warga NU. Dalam Muktamar ke-22 NU di Jakarta tahun 1959, ulama sepuh asal Kudus itu menyampaikan nasihat penting agar kader NU tidak merasa paling pintar dan selalu menjaga kerendahan hati.

 

Pesan tersebut disampaikan KHR Asnawi saat menutup rangkaian muktamar, beberapa hari sebelum wafatnya. Dalam catatan Kenang-kenangan Mu’tamar ke-XXII Partai Nahdlatul Ulama terbitan PBNU tahun 1960, ia mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang mudah lupa dan salah. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (27/12/2025).

 

“Manusia itu tempat salah dan lupa. Jangan merasa pintar sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna, hanya Allah yang Maha Sempurna,” pesan KHR Asnawi di hadapan para muktamirin, kala itu.

 

 

 

Menurutnya, kehidupan selalu mengalami perubahan (al-‘alamu mutaghayyirun). Karena itu, manusia tidak seharusnya mengeluh atau merasa paling benar. Sikap menerima perubahan dengan lapang dada dan penuh syukur menjadi bagian penting dari akhlak seorang muslim.

 

KHR Asnawi Kudus wafat pada Jumat dini hari, 25 Desember 1959, dalam usia sekitar 98 tahun. Kabar wafatnya dimuat Harian Duta Masyarakat edisi 28 Desember 1959. Media tersebut menyebutkan bahwa beliau wafat tidak lama setelah menghadiri Muktamar ke-22 NU di Jakarta, meski kondisi fisiknya sudah sangat sepuh.

 

Dalam catatan KH Saifuddin Zuhri, KHR Asnawi masih sempat melakukan perjalanan panjang dari Kudus ke Jakarta dan kembali lagi, menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer. Di setiap tempat singgah, ia tetap menyempatkan diri bersilaturahmi, sebagaimana kebiasaannya sepanjang hidup.

 

 

KHR Asnawi wafat saat hendak melaksanakan salat tahajud. Ia sempat duduk karena merasa lemah sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Jenazahnya dimakamkan di kompleks makam Sunan Kudus dan diantar ribuan pelayat, termasuk para ulama dan santri dari berbagai daerah.

 

Sebagai salah satu tokoh penting NU sejak awal berdiri, KHR Asnawi hampir selalu hadir dalam setiap muktamar, sejak 1926 hingga 1959. Keteladanan, kesederhanaan, serta pesan moralnya tentang kerendahan hati tetap relevan hingga kini, terutama bagi pengurus dan warga NU dalam menghadapi dinamika zaman.

 

Pesan terakhirnya menjadi pengingat bahwa ilmu dan jabatan tidak layak melahirkan kesombongan, sebab di atas setiap kepandaian selalu ada yang lebih tinggi, dan hanya Allah SWT yang Maha Sempurna. (ivan)