SURABAYA, PustakaJC.co – Nama KH. Abdul Wahab Hasbullah tercatat sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Ia bukan hanya ulama dan pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga arsitek politik umat yang menjadikan kemaslahatan sebagai kompas utama dalam setiap langkahnya.
Lahir pada 1888 dan wafat pada 1971, Kiai Wahab menjalani kehidupan yang melintasi tiga fase penting sejarah Indonesia, mulai dari masa kolonial Belanda, era Orde Lama di bawah Soekarno, hingga awal Orde Baru saat kepemimpinan nasional beralih kepada Soeharto. Dalam setiap fase itu, ia menunjukkan sikap politik yang adaptif, namun tetap berpijak pada satu prinsip, yakni menjaga kemaslahatan umat. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (22/2/2026).
Membangun Fondasi Politik Lewat Pendidikan dan Intelektual
Jauh sebelum NU berdiri pada 1926, Kiai Wahab telah memulai gerakan strategis melalui jalur pendidikan dan intelektual. Pada 1914, ia mendirikan forum Taswirul Afkar, sebuah ruang diskusi yang mempertemukan ulama dan kaum terpelajar untuk membahas persoalan agama, sosial, dan kebangsaan.
Forum ini menjadi wadah penting dalam membangun kesadaran politik umat Islam di tengah tekanan kolonial. Melalui diskusi terbuka, para ulama dan santri didorong untuk memahami realitas sosial dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan zaman.