Nabilah Lubis

Putri Mesir Pelopor Filologi Nusantara yang Mengabdikan Hidup untuk Indonesia

tokoh | 01 Maret 2026 04:36

Putri Mesir Pelopor Filologi Nusantara yang Mengabdikan Hidup untuk Indonesia
Prof Hj Nabilah Lubis. (dok nuonline)

KAIRO, PustakaJC.co – Dunia akademik Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Guru Besar Filologi, Nabilah Lubis, wafat di Kairo, Mesir, Sabtu, (28/2/2026) sore waktu setempat. Kepergian ilmuwan kelahiran Mesir yang mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan manuskrip Islam Nusantara itu meninggalkan duka mendalam, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia.

 

Selama puluhan tahun, Nabilah dikenal sebagai pelopor kajian filologi yang berperan besar dalam mengangkat khazanah manuskrip Islam Nusantara ke panggung akademik modern. Ia menjadi salah satu tokoh penting yang memperkenalkan dan mengembangkan studi teks klasik Islam di Indonesia. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (1/3/2026).

 

Guru Besar Filologi Oman Fathurrahman mengenang Nabilah sebagai sosok guru yang berjasa besar dalam perkembangan ilmu filologi di Indonesia. Menurutnya, Nabilah adalah generasi awal akademisi yang konsisten memperjuangkan kajian manuskrip di tengah minimnya minat mahasiswa saat itu.

 

“Prof Nabilah Lubis adalah guru pertama saya di bidang filologi. Meski peminatnya sangat sedikit, beliau tetap gigih mengenalkan kajian manuskrip Islam Nusantara,” ujarnya.

 

 

 

 

Nabilah Lubis lahir di Kairo, Mesir, pada 14 Maret 1942. Ia tumbuh di lingkungan intelektual yang dekat dengan tradisi keilmuan Al-Azhar. Kakeknya diketahui merupakan salah satu pengajar di lingkungan ulama Al-Azhar, sementara ayahnya bekerja di Kementerian Keuangan Mesir dan menjadi pengajar bahasa Prancis.

 

Perjalanan hidupnya berubah ketika ia menikah dengan Burhanuddin Lubis, mahasiswa asal Indonesia. Sejak saat itu, ia menetap di Indonesia dan mulai membangun karier akademiknya.

 

Namanya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pertama yang meraih gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1992, yang saat itu masih bernama IAIN Jakarta. Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi perempuan dalam dunia pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

 

Sejak 1965, Nabilah telah mengajar di Fakultas Adab IAIN Jakarta. Ia mengampu berbagai mata kuliah, termasuk Sastra Arab dan kajian teks klasik. Di antara mahasiswa yang pernah belajar darinya adalah tokoh intelektual Muslim terkemuka, Nurcholish Madjid.

 

 

Dalam perjalanan kariernya, Nabilah dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, di antaranya Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, serta Guru Besar Sastra Arab dan Filologi.

 

Kontribusi terbesar Nabilah terletak pada upayanya menghidupkan kembali manuskrip klasik Islam Nusantara. Disertasinya tentang kitab Zubdat al-Asrar karya ulama besar abad ke-17, Syekh Yusuf al-Makassari, menjadi salah satu karya penting dalam studi filologi Islam.

 

 

Melalui penelitian tersebut, ia membantu memperkenalkan warisan intelektual ulama Nusantara kepada dunia akademik internasional. Karya tersebut bahkan tengah diusulkan sebagai bagian dari program Memory of the World UNESCO, sebuah pengakuan atas pentingnya manuskrip sebagai warisan dunia.

 

Selain meneliti, Nabilah juga aktif menerjemahkan karya tokoh Indonesia ke dalam bahasa Arab. Ia menerjemahkan memoar Presiden B. J. Habibie serta berbagai karya intelektual Indonesia lainnya, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Timur Tengah.

 

Ia juga mendirikan majalah berbahasa Arab di Indonesia yang menjadi media pengenalan budaya, pariwisata, dan pemikiran Indonesia kepada dunia Arab.

 

Nabilah pensiun sebagai Guru Besar pada 2007. Namun, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan akademik, penelitian, penerjemahan, dan kerja sama internasional. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi intelektual dan keagamaan, termasuk komunitas pernaskahan dan organisasi cendekiawan Muslim.

 

 

Ia juga mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menyampaikan ceramah di Masjid Istiqlal pada tahun 2000, sebuah simbol pengakuan atas kapasitas intelektual dan keilmuannya.

 

 

 

Kepergian Nabilah Lubis bukan hanya kehilangan bagi dunia akademik, tetapi juga bagi upaya pelestarian warisan intelektual Islam Nusantara. Melalui karya, penelitian, dan generasi murid yang telah ia didik, jejak pengabdiannya akan terus hidup dan menjadi fondasi penting bagi perkembangan studi filologi di Indonesia. (ivan)