Pada akhirnya, persoalan utama bukan terletak pada keberadaan koalisi, melainkan pada sejauh mana demokrasi tetap menyediakan ruang kompetisi yang adil, transparan, dan terbuka bagi seluruh warga negara.
Kesadaran publik menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas demokrasi. Ketika mahasiswa, akademisi, masyarakat sipil, dan media terus mengawasi jalannya pemerintahan, ruang publik akan tetap hidup sebagai arena pengawasan terhadap kekuasaan.
Pertanyaan yang perlu terus diajukan adalah siapa sesungguhnya yang paling diuntungkan dari konfigurasi politik yang ada saat ini.
Di luar partai politik, terdapat kelompok-kelompok pemilik modal, dinasti politik, serta aktor-aktor ekonomi yang memiliki pengaruh besar terhadap proses politik dan pengambilan keputusan.
Mereka tidak selalu muncul dalam surat suara, tetapi sering kali memiliki kemampuan mempengaruhi arah kebijakan melalui dukungan finansial maupun jaringan kekuasaan yang dimiliki.
Demokrasi pada akhirnya tidak boleh berhenti pada ritual pemungutan suara lima tahunan. Demokrasi harus tetap menjadi ruang partisipasi yang memungkinkan rakyat mengawasi, mengkritik, dan menentukan arah perjalanan bangsa.
Karena itu, masyarakat perlu terus mempertanyakan satu hal mendasar: apakah kita benar-benar sedang memilih pemimpin yang bekerja untuk rakyat, atau hanya memilih pengelola baru dalam sistem kekuasaan yang pemiliknya tetap sama?
(int)