Ulama Pejuang dan Penjaga Keutuhan Bangsa

Kiai As’ad Syamsul Arifin, Ulama Pejuang yang Menjaga Keindonesiaan

tokoh | 12 Agustus 2026 19:00

Kiai As’ad Syamsul Arifin, Ulama Pejuang yang Menjaga Keindonesiaan
Dokumentasi KHR As'ad Syamsul Arifin (alm) saat mengajari kitab kepada para santrinya di Situbondo, Jawa Timur. (dok antara)

BONDOWOSO, PustakaJC.co - KHR As’ad Syamsul Arifin dikenal sebagai salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki peran penting dalam perjalanan keislaman sekaligus kebangsaan Indonesia. Kiprahnya tidak hanya terlihat dalam dunia pendidikan pesantren, tetapi juga dalam perjuangan melawan penjajahan dan menjaga keutuhan bangsa.

 

Ulama yang lahir di Makkah dan tumbuh di Pamekasan, Madura, itu merupakan santri Syaikhona Kholil Bangkalan. Dalam perjalanan hidupnya, Kiai As’ad dipercaya menyampaikan pesan dari Syaikhona Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari terkait restu pendirian jam’iyah Nahdlatul Ulama. Dilansir dari antaranews.com, Rabu, (12/8/2026).

 

Peran Kiai As’ad dalam perjalanan NU kembali terlihat ketika organisasi tersebut menghadapi dinamika terkait kebijakan asas tunggal Pancasila pada era Orde Baru. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, yang diasuhnya menjadi tempat pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU pada 1983.

 

Kiai As’ad menjadi salah satu tokoh penting dalam proses NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Sikap tersebut bukan semata-mata bentuk kompromi dengan pemerintah, melainkan didasarkan pada pandangan keagamaan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam serta mempertimbangkan kemaslahatan yang lebih besar bagi bangsa.

 

 

Sikap tersebut kemudian ditegaskan dalam Muktamar NU ke-27 pada 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dalam pandangan Kiai As’ad, NU berasaskan Pancasila, sementara akidahnya tetap Islam Ahlussunah wal Jamaah.

 

Pemikiran tersebut turut memperkuat posisi NU sebagai organisasi keagamaan yang menjaga kehidupan kebangsaan Indonesia. Sikap cinta tanah air dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi bagian penting dari warisan pemikiran Kiai As’ad.

 

Semangat kebangsaan Kiai As’ad sebenarnya telah terlihat jauh sebelum perdebatan mengenai Pancasila. Pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang, ia turut memimpin perlawanan bersama laskar yang dibentuknya.

 

 

Kiai As’ad dikenal dengan julukan “Kesatria Kuda Putih” karena kerap menunggangi kuda putih ketika memimpin pasukannya. Ia bersama Laskar Palopor pernah menyerbu gudang senjata Belanda di Bondowoso serta terlibat dalam penyerangan terhadap markas Jepang di wilayah Jember.

 

Laskar Palopor yang dipimpinnya beranggotakan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk bromocorah, preman, dan jagoan lokal. Mereka diarahkan untuk meninggalkan kehidupan masa lalu dan turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

 

Pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Kiai As’ad bersama pasukan Palopor ikut bergabung dalam perlawanan terhadap pasukan Sekutu. Sebelumnya, ia juga bergerilya di berbagai wilayah Madura untuk mengajak masyarakat memberikan dukungan terhadap perjuangan di Surabaya.

 

 

 

Selain dikenal sebagai pejuang dan tokoh NU, Kiai As’ad meninggalkan warisan besar melalui Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo di Situbondo. Pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang dihuni santri dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Pesantren yang kini diteruskan oleh generasi keluarganya itu juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi Islam moderat dan kehidupan masyarakat yang damai.

 

Kiprah Kiai As’ad dalam perjuangan bangsa, perjalanan NU, serta pendidikan pesantren membuat namanya menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada 2016.

 

Warisan Kiai As’ad tidak hanya berupa lembaga pendidikan, tetapi juga keteladanan mengenai bagaimana nilai-nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan kecintaan terhadap Indonesia. (ivan)