Warisan Cuk Sugrito kini masih terlihat melalui metode pengajaran yang diterapkan sejumlah guru, kegiatan pelestarian budaya, hingga aktivitas Pramuka yang melibatkan generasi muda.
Menurut Sofyan, warisan terbesar Sugrito bukan sekadar program yang pernah dibuat, melainkan nilai kehidupan yang ditanamkannya. Pendidikan karakter, kecintaan terhadap budaya, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi prinsip yang terus diwariskan.
Sugrito juga dikenal memiliki sikap rendah hati. Ia lebih banyak bekerja di balik layar, membimbing tanpa mencari perhatian, serta memberikan ruang kepada orang lain untuk berkembang.
Kepergiannya menjadi tantangan bagi masyarakat Bawean untuk menjaga keberlanjutan berbagai gagasan dan gerakan yang telah dirintisnya. Regenerasi menjadi penting agar pendidikan, budaya, dan Pramuka tetap berkembang di tengah modernisasi dan perubahan kehidupan generasi muda.
“Jika komunitas meneruskan prinsip-prinsip yang ia tanam, yakni pendidikan holistik, pelestarian budaya, dan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter, maka warisannya akan tumbuh menjadi gerakan kolektif yang lebih besar daripada satu individu,” ujar Sofyan. (ivan)