GRESIK, PustakaJC.co — Cuk Sugrito dikenang sebagai salah satu tokoh pendidik yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan, kebudayaan, dan Gerakan Pramuka di Pulau Bawean, Gresik. Dedikasinya selama puluhan tahun meninggalkan warisan yang masih dirasakan masyarakat hingga kini.
Guru UPT SDN 303 Gresik, Imam Sofyan, mengatakan Cuk Sugrito bukan sekadar seorang pendidik, tetapi sosok yang menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk membentuk karakter generasi muda. Dilansir dari gresiksatu.com, Jumat, (14/8/3036).
“Cuk Sugrito sangat menjiwai tiga bidang utama, yakni pendidikan, budaya, dan Pramuka,” kata Sofyan, Kamis, (13/8/2026).
Menurut Sofyan, Sugrito dikenal sebagai pendidik yang tidak kenal lelah. Ia memandang sekolah bukan hanya sebagai tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk membangun karakter, bertanya, mencoba, dan menemukan jati diri.
Salah satu kiprahnya adalah ikut merintis pendidikan menengah bersama tokoh masyarakat dan para kiai Bawean pada era 1960-an. Pengabdian tersebut terus dilakukannya hingga akhir hayat.
Sugrito bahkan kerap menyampaikan kepada keluarga dan orang-orang terdekat bahwa dirinya telah mewakafkan hidupnya untuk UMMA dan Bawean.
Dalam mengajar, ia menggunakan metode sederhana tetapi membekas. Cerita lokal digunakan untuk menjelaskan materi, sementara murid dilibatkan dalam berbagai kegiatan praktis. Ia juga menanamkan etika kerja dan tanggung jawab dalam proses pembelajaran.
Jejak pengabdiannya kemudian menginspirasi banyak guru muda. Para alumni juga mengenang perhatian dan dorongan yang diberikan Sugrito sebagai bagian dari perjalanan mereka dalam melanjutkan pendidikan, memilih profesi pengabdian, hingga kembali membangun kampung halaman.
Dedikasi Sugrito tidak hanya berlangsung di lingkungan pendidikan formal. Ia juga dikenal sebagai salah satu pelestari kebudayaan Bawean.
Bahasa Bawean, tarian, musik, upacara adat, permainan tradisional, hingga cerita leluhur menjadi bagian dari warisan budaya yang menurutnya harus dikenalkan kepada generasi muda.
Ia aktif memperkenalkan lagu tradisional, permainan tempo dulu, serta cerita lokal kepada anak-anak. Sugrito juga mendorong pementasan seni tradisi dalam kegiatan sekolah dan kompetisi cerita rakyat menggunakan bahasa lokal.
Upaya tersebut turut menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap identitas dan warisan budaya Bawean.
Di Gerakan Pramuka, Sugrito juga berperan dalam mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan karakter masyarakat kepulauan.
Pramuka baginya bukan sekadar kegiatan kemah dan tali-temali, melainkan sarana membentuk disiplin, kemandirian, kerja sama, cinta tanah air, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan Pramuka di Bawean turut diarahkan pada keterampilan hidup, konservasi pesisir, pertanian, hingga kemampuan bertahan hidup. Nilai budaya lokal juga dimasukkan melalui lagu daerah dan permainan tradisional.
Sofyan menilai pendekatan tersebut membuat anggota Pramuka tidak hanya memiliki keterampilan praktis, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.
Warisan Cuk Sugrito kini masih terlihat melalui metode pengajaran yang diterapkan sejumlah guru, kegiatan pelestarian budaya, hingga aktivitas Pramuka yang melibatkan generasi muda.
Menurut Sofyan, warisan terbesar Sugrito bukan sekadar program yang pernah dibuat, melainkan nilai kehidupan yang ditanamkannya. Pendidikan karakter, kecintaan terhadap budaya, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi prinsip yang terus diwariskan.
Sugrito juga dikenal memiliki sikap rendah hati. Ia lebih banyak bekerja di balik layar, membimbing tanpa mencari perhatian, serta memberikan ruang kepada orang lain untuk berkembang.
Kepergiannya menjadi tantangan bagi masyarakat Bawean untuk menjaga keberlanjutan berbagai gagasan dan gerakan yang telah dirintisnya. Regenerasi menjadi penting agar pendidikan, budaya, dan Pramuka tetap berkembang di tengah modernisasi dan perubahan kehidupan generasi muda.
“Jika komunitas meneruskan prinsip-prinsip yang ia tanam, yakni pendidikan holistik, pelestarian budaya, dan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter, maka warisannya akan tumbuh menjadi gerakan kolektif yang lebih besar daripada satu individu,” ujar Sofyan. (ivan)