Al-Qur’an sebagai Teks dan Produk Budaya
Gagasan lain yang cukup dikenal dari Abu Zayd adalah konsep Al-Qur’an sebagai muntaj ats-tsaqafiatau produk budaya.
Istilah tersebut berkaitan dengan pandangannya bahwa Al-Qur’an hadir dalam lingkungan kebudayaan tertentu, menggunakan bahasa yang berkembang dalam masyarakat Arab, serta berinteraksi dengan berbagai persoalan sosial pada masa pewahyuan.
Namun, menurut Abu Zayd, Al-Qur’an tidak berhenti sebagai produk budaya. Setelah hadir sebagai teks, Al-Qur’an juga berperan sebagai muntij ats-tsaqafah atau produsen budaya.
Artinya, Al-Qur’an kemudian turut memengaruhi dan membentuk kehidupan masyarakat melalui nilai, norma, pesan moral, dan gagasan yang dibawanya.
Dengan demikian, hubungan antara Al-Qur’an dan kebudayaan dipandang berlangsung secara dialektis. Realitas sosial menjadi bagian dari konteks hadirnya teks, sementara teks kemudian memberikan pengaruh terhadap perubahan realitas sosial.