JOMBANG, PustakaJC.co – Pondok Pesantren Tebuireng bersama Tebuireng Institute menggelar diskusi bertajuk Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qanun Al-Asasi, Sabtu, (14/2/2026). Forum ilmiah ini berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung KH Yusuf Hasyim, kompleks Tebuireng, dan diikuti 59 peserta dari unsur pimpinan pesantren, akademisi, hingga tim pengembangan kajian keilmuan.
Diskusi dipimpin Ketua Tebuireng Institute, KH Achmad Roziqi, dan dibuka keynote speech Pengasuh Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz. Dalam paparannya, kiai yang akrab disapa Gus Kikin itu menegaskan bahwa lahirnya Nahdlatul Ulama tidak bisa dilepaskan dari tekanan kolonial dan dinamika sosial-keagamaan saat itu. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Minggu, (15/2/2026).
“NU berdiri di tengah berbagai persoalan umat, khususnya ketika masyarakat berada dalam tekanan kolonialisme,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Al-Qanun Al-Asasi tidak sekadar dokumen sejarah, melainkan fondasi nilai dan arah gerak organisasi yang tetap relevan lintas zaman. Menurutnya, pembacaan ulang Qanun Asasi menjadi penting untuk menjaga kesinambungan prinsip perjuangan sekaligus menjawab tantangan modern.
Sejumlah akademisi dan peneliti turut memperkaya diskusi dari berbagai perspektif. Prof Abd A’la mengulas perkembangan Qanun Asasi dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia dan dinamika NU. H M Nasruddin Anshoriy memaparkan transformasi regulasi tersebut dalam lintasan sejarah organisasi.
Sementara itu, Dr Rijal Mumazziq menyoroti evolusi Qanun Asasi dalam merespons perubahan sosial-keagamaan, dan Prof Masdar Hilmy mengkaji dimensi etis serta sosiologisnya dalam relasi agama, negara, dan masyarakat. Kajian filologis disampaikan Dr Ahmad Ginanjar Sya’ban dengan menelusuri akar tekstual dan konstruksi awal Qanun Asasi.
Prof Achmad Muhibin Zuhri menegaskan pentingnya kesinambungan tradisi keilmuan pesantren dalam setiap transformasi regulasi organisasi. Adapun H Nur Hidayat menyoroti implementasi nilai-nilai Qanun Asasi dalam proses kaderisasi dan praksis keorganisasian.
Para pemapar sepakat bahwa Al-Qanun Al-Asasi merupakan dokumen fundamental yang merekam genealogi tekstual dan institusional NU sejak awal abad ke-20 hingga era kontemporer. Selain itu, forum juga membahas interpretasi ayat rujukan, arah transformasi organisasi, serta keterkaitan antara dinamika kelembagaan dan tradisi spiritual pesantren.
Diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Melalui forum ini, Tebuireng Institute berharap lahir rumusan pemikiran yang mampu menjembatani warisan historis Al-Qanun Al-Asasi dengan kebutuhan dan tantangan organisasi di era modern. (ivan)