SURABAYA, PustakaJC.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur resmi memulai Program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026 melalui kegiatan Kick Off yang digelar di Surabaya, Kamis, (30/7/2026). Mengangkat tema “Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal”, program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi berbasis potensi daerah melalui pengembangan UMKM, klaster pangan, desa wisata, koperasi, hingga pondok pesantren.
Peluncuran program dihadiri Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur R. Heru Wahono Santoso yang mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), akademisi, perwakilan koperasi pondok pesantren, pelaku UMKM, asosiasi, pimpinan pondok pesantren, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (31/7/2026).
Mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Heru Wahono Santoso menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur atas penyelenggaraan program tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi langkah strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah yang dimulai dari desa, koperasi, UMKM, hingga pondok pesantren.
Heru menilai pembangunan ekonomi yang berkualitas harus bertumpu pada kekuatan masyarakat di tingkat akar rumput. Karena itu, seluruh potensi ekonomi lokal perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak agar mampu menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ia juga mengapresiasi peran media yang dinilai memiliki kontribusi penting dalam memperkenalkan potensi daerah sekaligus memperluas promosi berbagai produk unggulan Jawa Timur kepada masyarakat yang lebih luas.
Di tengah tantangan ekonomi global, Heru mengatakan Jawa Timur masih mampu mempertahankan kinerja ekonomi yang positif. Pada 2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 4,93 persen dengan dukungan konsumsi rumah tangga, perdagangan, industri pengolahan, sektor pertanian, serta meningkatnya aktivitas ekspor.
Selain pertumbuhan ekonomi, inflasi Jawa Timur juga tetap terjaga di kisaran 2,9 persen. Capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Bank Indonesia, pemerintah kabupaten/kota, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat.
Menurut Heru, pondok pesantren kini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berkembang sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi, kewirausahaan, ekonomi syariah, hingga berbagai unit usaha produktif.
“Program ini merupakan ekosistem ekonomi yang mampu menghubungkan petani, UMKM, koperasi, industri, dan pondok pesantren dengan pasar yang lebih luas. Desa harus terintegrasi dengan sektor pariwisata, perdagangan, dan industri sehingga tercipta rantai nilai yang saling menguatkan,” ujar Heru.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem ekonomi tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, lembaga keuangan, akademisi, dunia usaha, media massa, hingga masyarakat agar mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Heru berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi awal semakin kuatnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun perekonomian Jawa Timur yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menjelaskan bahwa Program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren bukan sekadar kegiatan kunjungan lapangan ataupun pembelajaran, melainkan ruang kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha sekaligus memperluas jejaring ekonomi daerah.
Ia menyebutkan bahwa program tersebut telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan dan terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas bagi penguatan UMKM serta pengembangan ekonomi syariah di Jawa Timur.
“Melalui kegiatan ini kita ingin menghadirkan ruang belajar bersama. Kita akan menyaksikan berbagai success story, berbagi pengalaman, menggali praktik-praktik terbaik (best practices), sekaligus melihat bagaimana keberhasilan di suatu daerah dapat direplikasi di daerah lainnya,”kata Ibrahim.
Dalam pemaparannya, Ibrahim menegaskan terdapat tiga fondasi utama dalam pengembangan UMKM dan ekonomi pondok pesantren, yakni konsistensi, inovasi, dan kolaborasi.
Menurutnya, konsistensi menjadi modal penting karena keberhasilan usaha tidak diperoleh secara instan. Dibutuhkan proses panjang, ketekunan, semangat belajar, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan yang terus berkembang.
Melalui program ini, peserta akan mempelajari berbagai kisah sukses pengembangan UMKM, desa wisata, hingga pondok pesantren produktif di sejumlah daerah, termasuk Mojokerto dan Banyuwangi. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi referensi dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Selain konsistensi, Ibrahim menilai inovasi menjadi faktor penting agar pelaku usaha mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, perubahan pasar, serta dinamika ekonomi global. Inovasi diyakini mampu menciptakan nilai tambah melalui digitalisasi, pengembangan produk unggulan, pertanian organik, maupun pemberdayaan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, akademisi, dunia usaha, asosiasi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem usaha yang sehat, memperluas akses pasar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat pembiayaan.
“Kami berharap berbagai praktik baik yang diperoleh selama kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi UMKM maupun pondok pesantren lainnya untuk meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional,” tutur Ibrahim.
Melalui Program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren Jawa Timur 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem ekonomi lokal yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. (ivan)