SURABAYA, PustakaJC.co – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menekankan pentingnya talenta komunikasi masa depan untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) tanpa meninggalkan etika dan nilai kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikan Sherlita saat memberikan orasi ilmiah dalam Wisuda XXIX Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) Tahun Akademik 2026/2027 di Surabaya, Sabtu, (15/8/2026).
Dalam orasi bertema “Merawat Makna di Tengah Banjir Informasi: Talenta Komunikasi Masa Depan dalam Era Hiperealitas, Hiper-Informasi, Hiper-Konektivitas, dan AI” itu, Sherlita menyebut perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memproduksi dan menerima informasi. Dilansir darj kominfojatim.go.id, Minggu, (16/8/2026).
Menurutnya, AI kini mampu menghasilkan teks, gambar, suara, video, analisis hingga simulasi yang dapat membentuk representasi mengenai realitas.
Kondisi tersebut membuat tantangan komunikasi tidak lagi sebatas bagaimana mendapatkan informasi. Lebih dari itu, masyarakat perlu mampu menentukan informasi yang benar, relevan dan memiliki makna.
“Talenta komunikasi masa depan harus mampu memahami ekosistem informasi, membaca konteks, serta membedakan fakta, representasi, dan interpretasi,” ujar Sherlita.
Ia menilai komunikator juga tidak cukup hanya berperan sebagai pembuat konten atau content producer. Peran tersebut perlu berkembang menjadi meaning maker, yakni pihak yang mampu memberikan makna dan manfaat dari setiap pesan yang disampaikan.
Sherlita kemudian menyebut lima karakter yang perlu dimiliki talenta komunikasi masa depan, yakni inovatif, tangkas, kritis, etis dan humanis.
“Di tengah dunia yang berlomba menghasilkan lebih banyak konten, jadilah orang yang menghasilkan lebih banyak manfaat. Di tengah dunia yang berlomba mendapatkan perhatian, jadilah orang yang layak dipercaya,” katanya.
Sherlita berpesan agar para lulusan tidak hanya mengejar kemampuan membuat pesan, tetapi juga mampu menjaga nilai dan makna di balik komunikasi.
“Jadilah manusia yang tidak hanya mampu membuat pesan, tetapi mampu merawat makna,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor Stikosa AWS Dr. Jokhanan Kristiyono, S.T., M.Med.Kom., mengatakan perkembangan AI telah membawa perubahan besar terhadap lanskap media dan komunikasi global.
Karena itu, insan komunikasi, termasuk para lulusan Stikosa AWS, dituntut tidak hanya menguasai keterampilan teknis konvensional, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Seorang sarjana komunikasi masa depan harus memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi dan memanfaatkan teknologi secara bijak, tanpa meninggalkan etika serta nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Jokhanan.
Wisuda XXIX Stikosa AWS tahun 2026 tersebut diikuti 82 mahasiswa dan mahasiswi. Jokhanan menegaskan, wisuda bukan menjadi akhir dari proses belajar, melainkan pintu awal bagi para lulusan untuk mengabdikan ilmu dan keahliannya di tengah masyarakat.
Ia juga mengapresiasi perjuangan para wisudawan dan wisudawati dalam menyelesaikan pendidikan, termasuk mereka yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan studi.
Jokhanan berpesan agar para lulusan menjadi pembelajar sepanjang hayat, menjaga integritas, membawa nama baik almamater, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, negara dan masyarakat. (ivan)