JAKARTA, PustakaJC.co - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi mengumumkan susunan kepengurusan masa khidmah 2026–2031 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026). Dari total 210 pengurus harian yang ditetapkan, kepengurusan periode ini mengukir sejarah baru dengan merangkul dua tokoh aktif dari kelompok penyandang disabilitas ke dalam jajaran jajaran kepengurusan inti.
Kedua sosok tersebut adalah Gufroni Sakaril, yang dipercaya mengemban amanah sebagai salah satu Ketua PBNU, serta Dr. Bahrul Fuad—yang akrab disapa Cak Fu—sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (1/10/2026).
Katib Aam PBNU Prof. Muhammad Nuh menyampaikan bahwa masuknya keterwakilan kelompok disabilitas dalam jajaran pimpinan PBNU merupakan komitmen nyata organisasi dalam mendorong prinsip kesetaraan dan inklusivitas di tubuh Nahdlatul Ulama.
"Alhamdulillah, di kepengurusan sekarang ini ada saudara-saudara kita yang mewakili kelompok disabilitas," ujar Prof. Nuh di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu, (30/9/2026).
Mendorong Gerakan Inklusi Berkelanjutan di Lingkungan NU
Keterlibatan penyandang disabilitas di tingkat kepemimpinan puncak PBNU ini tidak datang secara instan. Cak Fu mengungkapkan, advokasi dan dorongan untuk melibatkannya dalam struktur kepengurusan PBNU sebenarnya telah dirintis sejak 2018. Namun, baru pada kepengurusan periode 2026–2031 aspirasi tersebut terwujud secara penuh di jajaran pimpinan harian.
"Perjuangan untuk disabilitas sudah masuk sejak 2018, tapi memang belum masuk dalam jajaran kepengurusan inti," kata Cak Fu usai acara pengumuman.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mandat ini tidak boleh berhenti sekadar pada keterwakilan simbolis di jajaran struktur. Cak Fu menyoroti pentingnya menerjemahkan keberadaan mereka menjadi kebijakan sistematis yang menjangkau warga nahdliyin penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.
"Kita akan mendorong lembaga seperti LP Ma'arif, Lembaga Dakwah, masjid, hingga RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyah) agar lebih inklusif. Nanti saya akan berkoordinasi dengan pengurus lain bagaimana mendesain pilot project pendidikan inklusif," tegasnya.
Profil Dua Tokoh Disabilitas PBNU 2026–2031
1. Dr. Bahrul Fuad, M.A. (Wakil Sekretaris Jenderal PBNU)
Dr. Bahrul Fuad (Cak Fu) adalah akademisi dan pakar profesional yang memiliki rekam jejak panjang dalam isu kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan inklusi sosial (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion / GEDSI).
- Pendidikan: Meraih gelar Sarjana Psikologi dari Universitas Darul Ulum (2000), Master of Arts (M.A.) bidang Bantuan Kemanusiaan melalui Program Eropa NOHA di University of Groningen, Belanda (2005), serta meraih gelar Doktor Sosiologi dari FISIP Universitas Indonesia (2021).
- Karier & Pengalaman:
- Pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) periode 2020–2024.
- Konsultan ahli GEDSI pada Program INKLUSI (kemitraan Australia-Indonesia) dan konsultan inklusi disabilitas di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
- Terpilih sebagai anggota Panitia Seleksi (Pansel) Anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND) periode 2026–2031 pada Agustus–Desember 2026.
- Karya Tulis & Publikasi: Menggagas Buku Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas, meneliti The Special Needs of Disabled People in Disaster Situations: Case Study on Aceh Tsunami December 26th, 2004 Indonesia (buku, 2011), serta menulis jurnal dan opini media seperti Kecacatan: Dari Tragedi Personal Menuju Gerakan Sosial (Jurnal Perempuan, 2010), Legalisasi Stigma (Kompas, 2015), dan City of Traps (Inside Indonesia, 2018).
2. Gufroni Sakaril, S.E., M.M. (Ketua PBNU)
Gufroni Sakaril merupakan dosen, praktisi komunikasi, dan aktivis senior yang berdedikasi dalam gerakan memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia.
- Pendidikan & Pelatihan: Menuntaskan studi S1 Komunikasi Massa di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (1990) dan Magister Manajemen dari Universitas Mercu Buana (2007). Mengikuti berbagai pelatihan kepemimpinan dan hak disabilitas di Flinders University (Australia) serta pelatihan AICHR di Bangkok (Thailand).
- Karier Akademik & Profesional:
- Dosen aktif di Universitas Mercu Buana sejak tahun 2000, serta pernah mengajar di Universitas Tarumanagara dan Universitas Paramadina.
- Pengalaman profesional di bidang kehumasan korporat, termasuk pernah menjabat sebagai Head of Public Relations dan Corporate Relations PT Indosiar Visual Mandiri.
- Kepemimpinan Organisasi:
- Memimpin Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) sebagai Ketua Umum selama dua periode (2011–2016 dan 2016–2021), dan saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PPDI (2022–2027).
- Pernah tercatat sebagai anggota pimpinan World Disability Union serta mendirikan Komite Abilikpik Indonesia pada 2023.
- Kontribusi Kunci & Karya Tulis:
- Menjadi narasumber perumusan pedoman membaca Al-Qur'an bagi penyandang disabilitas sensorik rungu wicara (2020) dan narasumber/penulis Buku Panduan Perfilman Inklusif(2025).
- Penulis artikel riset Menjembatani Kesenjangan Akses Event: Perspektif Multi-Stakeholder dalam Penyelenggaraan Event Inklusif di Indonesia di Journal of Event, Travel and Tour Management (2026) dan publikasi riset interaksi sosial di Jurnal VISI Komunikasi.
Penetapan struktur kepengurusan anyar ini menandai babak baru bagi Nahdlatul Ulama dalam membangun ekosistem organisasi yang ramah disabilitas. Melalui jajaran kepemimpinan yang lebih representatif, PBNU periode 2026–2031 optimistis dapat menghadirkan berbagai kebijakan serta program kerja yang lebih responsif terhadap kebutuhan seluruh lapisan warga nahdliyin tanpa terkecuali. (ivan)