SURABAYA, PustakaJC.co - Para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya diminta tidak sekadar menjadi pengoperasi teknologi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). ASN dituntut memiliki pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset) serta mengadopsi pendekatan omni human guna menghadapi kompetisi tata kelola perkotaan yang semakin kompleks.
Pesan tersebut ditegaskan oleh Founder and Chairman MarkPlus Corp, Hermawan Kartajaya, dalam seminar bertajuk Winning The City Competition in The Age of AI: Membangun ASN Adaptif, Inovatif, dan Berdaya Saing melalui AI—Leadership di Era AI yang digelar di Graha Sawunggaling, Surabaya, Sabtu, (5/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Surabaya Marketing Week 2026 hasil kolaborasi Pemkot Surabaya dan MarkPlus Institute.
Hermawan menjelaskan, tantangan terbesar di era digital saat ini bukanlah seberapa canggih sebuah instansi mengadopsi perangkat AI, melainkan sejauh mana kapasitas manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat dan bijak.
"Jangan memilih antara manusia atau teknologi. Keduanya harus digabung. Teknologi meningkatkan produktivitas, tetapi manusia tetap menentukan keputusan, nilai, arah, dan kepemimpinan," ujar Hermawan dikutip dari jatimpos.co, Senin, (7/9/2026).
Ia melabeli pendekatan kolaboratif ini sebagai konsep omni human, yakni kondisi di mana manusia mampu memadukan kekuatan intuitif dan etis dirinya dengan kecepatan serta efisiensi teknologi. Dalam praktiknya, AI digunakan untuk mempercepat proses pengolahan data dan tugas teknis-rutin, sementara kontrol atas keputusan strategis, arah kebijakan, dan nilai kemanusiaan tetap dipegang penuh oleh ASN.
Lebih lanjut, pimpinan birokrasi diminta tidak hanya menjalankan fungsi manajerial yang berfokus pada target jangka pendek dan pengukuran kinerja semata. Menurutnya, seorang kepala organisasi harus memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) yang kuat untuk menjaga nilai, budaya, dan arah jangka panjang organisasi di tengah arus perubahan.
Hermawan juga mendorong para ASN untuk bertindak layaknya seorang entrepreneur tanpa mengesampingkan profesionalisme sebagai aparatur negara. Hal ini berarti ASN dituntut berani melihat persoalan publik sebagai peluang inovasi, terbuka terhadap gagasan baru, serta tidak ragu memperbaiki cara kerja lama.
"Kalau ada orang lain memberikan masukan, jangan kaku dengan mengatakan 'ini ide saya'. Justru ide itu harus di-improve. Inovasi adalah sesuatu yang terus diperbaiki," tegasnya.
Langkah penguatan SDM ini sejalan dengan arah kebijakan Pemkot Surabaya. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menyambut positif gagasan penguatan kapasitas ASN di era AI ini. Menurut Lilik, keberadaan teknologi justru membebaskan ASN dari rutinitas administratif sehingga mereka dapat lebih berfokus pada aspek-aspek kepemimpinan, komunikasi, empati, serta pengambilan keputusan.
Melalui integrasi teknologi dan penguatan karakter SDM, Pemkot Surabaya optimistis mampu mencetak birokrasi yang lebih adaptif, inovatif, serta berdaya saing tinggi tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan dalam melayani masyarakat. (ivan)