GRESIK, PustakaJC.co - Kualitas tidur selama penerbangan, khususnya rute jarak jauh atau red-eye flight, kerap menjadi kendala utama para pelancong dan pelaku perjalanan bisnis.
Suara bising mesin, ruang gerak terbatas, hingga distraksi aktivitas kabin kerap membuat penumpang mendarat dalam kondisi lemas dan tidak bugar. Dilansir darj gresiksatu.com, Senin, (5/10/2026).
Mengutip pandangan sejumlah spesialis tidur dan praktisi kesehatan klinis, terdapat lima langkah strategis yang terbukti mampu meningkatkan kualitas istirahat di dalam kabin secara signifikan:
1. Selektif Mengonsumsi Makanan dan Minuman
Spesialis tidur klinis, Michael Breus, menegaskan pentingnya membatasi asupan tertentu sebelum dan selama penerbangan. Penumpang sangat disarankan menghindari minuman berkarbonasi (soda) dan alkohol.
Meski alkohol kerap dianggap memicu rasa kantuk, zat ini justru merusak arsitektur dan kualitas tidur secara keseluruhan. Selain itu, Breus merekomendasikan untuk menyantap makanan bergizi sebelumproses boarding dan menolak layanan makan di dalam kabin jika target utamanya adalah istirahat.
"Layanan makanan di pesawat bisa memakan waktu hingga dua jam. Ini sangat memotong durasi istirahat Anda," ujar Breus, dikutip via US News & World Report.
2. Redam Bising dengan Earplug Berkualitas
Batas toleransi kebisingan di dalam kabin sering kali tidak disadari. Breus menyarankan penggunaan earplug yang mampu menurunkan tingkat kebisingan (Noise Reduction Rating) hingga 32 desibel.
Dukungan senada disampaikan Molly Atwood, Asisten Profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins. Atwood merekomendasikan penyumbat telinga berbahan dasar silikon atau dempul (putty) agar lebih fleksibel dan efektif menekan stimulasi suara yang dapat mengejutkan otak saat fase relaksasi.
3. Hindari Strategi Sengaja Begadang
Banyak penumpang sengaja memangkas waktu tidur malam sebelum keberangkatan dengan harapan bisa langsung terlelap di pesawat. Pelatih tidur Kelly Murray menilai metode ini sebagai kekeliruan fatal.
Kelelahan ekstrem justru memicu lonjakan hormon kortisol (hormon stres) dan memicu respons fight-or-flight pada sistem saraf. Dampaknya, tubuh justru menjadi terlalu tegang (overstimulated) dan makin sulit mencapai fase deep sleep.
4. Manajemen Stres Sebelum Keberangkatan
Tingkat kecemasan akibat jadwal perjalanan, tumpukan pekerjaan, atau proses administrasi bandara berbanding lurus dengan kualitas tidur di udara. Tanda-tanda tubuh terlalu tegang—seperti detak jantung meningkat dan pikiran yang terus berpacu—harus diredakan terlebih dahulu melalui teknik pernapasan sederhana atau relaksasi sebelum memasuki kabin.
5. Lakukan Persiapan Pre-Flight secara Matang
Poin kunci dari seluruh rekomendasi ahli adalah bahwa kualitas tidur di atas awan sangat ditentukan oleh persiapan di darat. Menjaga kondisi fisik tetap stabil, menyiapkan amunisi pendukung (seperti masker mata dan earplug), serta mengatur pola makan sebelum naik pesawat menjadi kunci utama kenyamanan perjalanan.
Rekomendasi Peralatan Pendukung (Kit Tidur Kabin):
- Penyumbat telinga silikon/dempul (minimal NRR 32 dB)
- Headphone dengan fitur Active Noise Cancelling (ANC)
- Masker mata kedap cahaya (eye mask)
- Bantal leher ergomik
Dengan menerapkan kombinasi persiapan fisik dan mental tersebut, penumpang tidak hanya mendapatkan kenyamanan fisik, tetapi juga memastikan kebugaran fisik dan produktivitas yang optimal begitu mendarat di destinasi tujuan. (ivan)