Membangun Santri Unggul Dimulai dari Gurunya
Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya melalui slogan pendidikan yang optimistis. Cita-cita tersebut membutuhkan investasi serius pada kualitas sumber daya manusia, terutama para pendidik yang setiap hari membentuk pengetahuan, karakter, dan cara berpikir generasi muda.
Pesantren memiliki modal sosial, budaya, dan spiritual yang sangat besar. Tradisi keilmuan, keteladanan kiai, kedisiplinan, serta kehidupan kolektif santri merupakan kekuatan khas yang telah memberikan kontribusi panjang bagi bangsa Indonesia.
Namun, kekuatan tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Pemerintah harus memastikan bahwa penguatan kelembagaan pesantren berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi, kesejahteraan, dan profesionalisme pendidiknya. Pengembangan kapasitas guru tidak boleh dipandang sebagai program tambahan, melainkan sebagai investasi utama dalam peningkatan mutu pendidikan pesantren.
Hari Santri seharusnya tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan pesantren menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi pendidikan pesantren tidak ditentukan oleh seberapa banyak program yang diluncurkan, melainkan seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan oleh guru dan santri.
Sebab, sebelum menuntut santri menguasai masa depan, negara harus terlebih dahulu memastikan bahwa para gurunya memiliki kompetensi, kesempatan, dan dukungan untuk mengantarkan mereka ke sana.