Penyandang Disabilitas Dilatih Siap Kerja, Kadin Jatim Buka Akses Industri

pemerintahan | 11 Agustus 2026 18:47

Penyandang Disabilitas Dilatih Siap Kerja, Kadin Jatim Buka Akses Industri
Peserta mengikuti pelatihan pelayanan prima yang digelar Kadin Institute bersama Kadin Jawa Timur dan Plan International di Surabaya, sebagai upaya memperkuat keterampilan dan membuka akses kerja bagi penyandang disabilitas. (dok surabayapagi)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Kadin Institute dan Plan International mendorong penyandang disabilitas agar memiliki akses lebih luas ke dunia kerja melalui pelatihan keterampilan yang dilanjutkan dengan program pemagangan.

 

Pelatihan tersebut berlangsung selama empat hari, 3–6 Agustus 2026, di Kadin Institute, Surabaya. Kegiatan itu diikuti sekitar 280 peserta, dengan 20 peserta di antaranya merupakan penyandang disabilitas, khususnya tuna netra. Dilansir dari surabayapagi.com, Selasa, (11/8/2026).

 

Peserta mendapatkan berbagai materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Materi tersebut meliputi digital marketing, pelayanan prima atau service excellence, administrasi retail, administrasi dasar hingga literasi finansial.

 

Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengatakan pelatihan tersebut menjadi tahap awal sebelum peserta mendapatkan pengalaman langsung melalui program pemagangan.

 

“Kami memberikan beberapa pelatihan, mulai dari digital marketing, service excellence atau pelayanan prima, administrasi retail, administrasi dasar, hingga literasi finansial. Setelah pelatihan, mereka akan dimagangkan dan harapannya bisa diserap oleh industri sesuai dengan kompetensinya,” kata Nurul di Surabaya, Selasa, (11/8/2026).

 

 

 

 

Menurut Nurul, proses pelatihan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Salah satu kemampuan yang terlihat menonjol dari peserta tuna netra adalah komunikasi dan kemampuan berbicara.

 

“Alhamdulillah, selama empat hari kita latih, anak-anak bisa menyerap materi dengan baik. Ternyata kalau kita melatih anak yang memiliki kebutuhan khusus, kelebihannya ada di bicaranya. Bagus bicaranya, komunikasinya cukup bagus dan mereka sangat antusias menerima materi,” ujarnya.

 

Melihat potensi tersebut, Kadin Institute menyiapkan pelatihan lanjutan berupa pendalaman public speaking. Materi tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan diri sekaligus kemampuan komunikasi peserta sebelum memasuki lingkungan kerja.

 

“Kita akan berikan lagi pendalaman terkait public speaking dalam waktu dekat. Kita kuatkan lagi dua hari public speaking. Tadi kan pelayanan prima, ternyata mereka punya kelebihan. Itu yang akan kita latih,” kata Nurul.

 

Selain penguatan kompetensi, Kadin Institute juga membuka akses pemagangan bagi 20 peserta penyandang disabilitas. Salah satu peluang yang tengah dijajaki adalah pemagangan di sejumlah stasiun radio di Surabaya.

 

 

Nurul mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Ketua Persatuan Radio di Surabaya untuk membuka kesempatan tersebut.

 

“Kami sudah menghubungi Pak Ismet selaku Ketua Persatuan Radio di Surabaya dan beliau bersedia menerima 20 anak ini untuk magang di radio. Setelah itu, bagaimana penyerapannya, kami kembalikan kepada industri,” tuturnya.

 

Menurut Nurul, pengalaman selama pelatihan memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak serta-merta membatasi kemampuan seseorang untuk berkembang. Potensi lain justru dapat muncul dan menjadi kekuatan ketika diberikan ruang untuk diasah.

 

“Saya melihat dari hasil hari ini, anak-anak luar biasa. Allah memberikan sesuatu itu ada kekurangan, tetapi di balik kekurangannya ternyata ada kelebihan. Suara dan gaya bicaranya sungguh luar biasa. Mereka sangat antusias ketika diberikan materi pelayanan prima,” ujarnya.

 

 

 

 

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan program tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan yang setara sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

 

“Harapannya anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus ini bisa diterima oleh industri dan terserap, bisa bekerja seperti layaknya orang lain. Mendapatkan fasilitas yang sama seperti orang lain dan tentunya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki,” kata Adik.

 

Ia menambahkan, penguatan kompetensi peserta juga dapat dilanjutkan melalui sertifikasi.

 

Kadin Institute bekerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara untuk mendukung proses pelatihan dan sertifikasi sesuai kebutuhan peserta.

 

“Perangkat instrumennya disesuaikan dengan kebutuhan asesi. Kebetulan di Kadin Institute juga bekerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara yang memungkinkan untuk melatih dan men-sertifikasi hasil pelatihan Kadin Institute sesuai dengan kebutuhan asesinya,” ujarnya.

 

Bagi peserta, pelatihan tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk menambah pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membangun keberanian dan kesiapan menghadapi dunia kerja.

 

 

Hal itu dirasakan Fadlakal Jamal Aswar (29), penyandang disabilitas tuna netra asal Surabaya yang tergabung dalam Komunitas Mata Hati.

 

Jamal mengatakan sebelumnya telah mengikuti sejumlah pelatihan. Namun, materi pelayanan prima memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan maupun pekerjaan.

 

“Di pelayanan prima saya mendapatkan lumayan banyak pengetahuan tambahan, baik secara akademis maupun praktik,” kata Jamal.

 

Menurut dia, pelayanan yang baik sebenarnya berawal dari kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri. Sikap positif tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.

 

“Kalau kita ingin melayani dengan baik, maka kita harus baik dulu dengan diri kita. Kita harus bahagia, kita harus selesai dengan diri kita. Kalau kita bahagia, kita juga bisa membuat orang lain bahagia,” ujarnya.

 

Bagi penyandang tuna netra, kata Jamal, membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh menjadi tantangan tersendiri karena informasi visual tidak dapat diterima secara langsung.

 

Karena itu, materi pelayanan prima memberikan perspektif baru mengenai cara membangun komunikasi dengan pelanggan.

 

“Body language dan ekspresi itu kami tidak bisa mendapatkan input dari melihat. Itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Kesulitan kami adalah bagaimana membaca ekspresi dan body language. Senyum adalah fondasi dari pelayanan prima,” tuturnya.

 

 

 

Jamal yang sehari-hari berkegiatan sebagai musisi pernah bekerja sebagai barista dan kini juga berperan sebagai koordinator website di Komunitas Mata Hati.

 

Ia berharap keterampilan yang diperoleh dari pelatihan dapat memperkuat kemampuan dirinya dan teman-teman penyandang disabilitas untuk berkontribusi lebih luas.

 

“Harapannya, pelatihan ini bisa menjadikan kapabilitas saya dan teman-teman bertambah agar bisa berkontribusi di masyarakat. Jumlah penyandang disabilitas cukup besar. Sayang kalau hanya menjadi sekumpulan manusia. Kami harus bisa berkontribusi, mulai dari yang paling kecil di rumah, lingkungan, hingga negara,” katanya.

 

Jamal juga mengajak penyandang disabilitas untuk terus mengembangkan kemampuan dan tidak berhenti pada posisi sebagai penerima bantuan.

 

“Jangan terus meminta untuk dikasihani, tetapi mulailah untuk berkontribusi,” tegasnya.

 

 

 

Semangat serupa dirasakan Lestari Daeng Baba, peserta asal Sidoarjo yang juga merupakan penyandang disabilitas tuna netra. Ia mengaku sempat merasa gugup sebelum mengikuti pelatihan.

 

Namun, setelah mengikuti berbagai materi, rasa gugup tersebut berubah menjadi pengalaman baru yang membuatnya lebih memahami cara menghadapi berbagai karakter orang ketika memberikan pelayanan.

 

“Awalnya takut karena sedikit gugupan. Tetapi dengan ikut ini ada banyak hal tentang bagaimana melayani orang dengan baik. Selama ini saya hanya tahu dari drama dan sebagainya. Dengan pelatihan ini saya jadi tahu bagaimana seharusnya melayani orang secara prima,” ujarnya.

 

Dalam kesehariannya, Lestari membantu orang tuanya menjalankan usaha katering sekaligus menjalani kuliah secara daring di Universitas Terbuka.

 

Menurutnya, materi pelayanan prima sangat relevan dengan aktivitas sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan pelanggan yang memiliki karakter berbeda-beda.

 

“Kalau bekerja di tempat lain dan melayani banyak orang, sangat penting memahami bahwa sifat setiap orang berbeda. Saya sangat terkesan dengan materi itu sehingga bisa memahami bagaimana melayani mereka dengan baik,” katanya.

 

Salah satu materi yang dianggap paling bermanfaat oleh Lestari adalah cara menghadapi pelanggan yang menyampaikan keluhan.

 

“Misalnya biasanya saya tidak tahu bagaimana ketika ada yang komplain. Dengan pelatihan ini saya jadi tahu,” ujarnya.

 

Bagi Lestari, pelatihan juga memberikan pengalaman sosial yang membuatnya semakin percaya diri. Bertemu dengan peserta lain dan belajar bersama membuat suasana pelatihan terasa menyenangkan.

 

“Kesan saya sangat baik dan seru. Bisa belajar dengan teman-teman, jadi merasa lebih bahagia dan nyaman,” tuturnya.

 

 

 

Kadin Institute menyebut program pengembangan kompetensi bagi penyandang disabilitas tersebut tidak berhenti pada pelatihan Agustus. Program serupa direncanakan kembali digelar setelah Oktober dan dilaksanakan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan.

 

Melalui perpaduan pelatihan keterampilan, penguatan public speaking, pemagangan dan sertifikasi, program tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi sekaligus memperoleh akses yang lebih luas ke dunia kerja.

 

Pendidikan keterampilan tidak hanya menjadi sarana memperoleh sertifikat, tetapi juga membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kompetensi.

 

Dengan semakin terbukanya akses pemagangan dan dunia industri, penyandang disabilitas diharapkan memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang, bekerja, dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat. (ivan)