Tokoh Inspiratif Jawa Timur

Mohammad Noer, Gubernur Jatim yang Jadi Teladan Kepemimpinan Prabowo

tokoh | 08 Agustus 2026 18:47

Mohammad Noer, Gubernur Jatim yang Jadi Teladan Kepemimpinan Prabowo
Mohammad Noer atau yang akrab disapa Cak Noer. (dok kompas)

SURABAYA, PustakaJC.co — Nama Raden Panji Mohammad Noer kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut mantan Gubernur Jawa Timur tersebut sebagai salah satu sosok yang pernah memberikan wejangan tentang kepemimpinan.

 

Mohammad Noer atau yang akrab disapa Cak Noer merupakan Gubernur Jawa Timur periode 1967-1976. Sosoknya dikenal memiliki kedekatan dengan masyarakat, terutama kalangan rakyat kecil. Dilansir dari kompas.com, Sabtu, (8/8/2026).

 

Dalam peluncuran buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026), Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendapat nasihat dari Cak Noer beberapa bulan sebelum tokoh tersebut meninggal dunia pada 16 April 2010.

 

Prabowo menyebut Cak Noer pernah menyampaikan bahwa tugas seorang pemimpin pada dasarnya adalah bekerja agar rakyat kecil dapat merasakan kehidupan yang lebih baik.

 

Nasihat tersebut kemudian menjadi salah satu pandangan yang dikenang Prabowo dalam memahami arti kepemimpinan, yakni memberikan harapan kepada masyarakat yang paling lemah dan tidak berdaya.

 

 

 

Mengawali Karier dari Bawah

 

Mohammad Noer lahir di Sampang, Madura, pada 13 Januari 1918. Ia merupakan putra ketujuh dari 12 bersaudara dari pasangan Raden Aria Condropratikto dan Raden Ayu Siti Nursiah.

 

Karier pemerintahan Cak Noer dimulai dari bawah. Pada 1939, ia menjadi pegawai magang di Kantor Kabupaten Sumenep.

 

Kariernya kemudian berkembang. Ia pernah menjabat sebagai Asisten Wedana, Patih atau Wakil Bupati Bangkalan, Bupati Bangkalan hingga Pembantu Gubernur Jawa Timur untuk wilayah Madura.

 

Perjalanan panjang tersebut mengantarkannya ke kursi Gubernur Jawa Timur pada 1967. Ia memimpin Jawa Timur hingga 1976.

 

 

Dikenal sebagai Gubernurnya Rakyat Kecil

 

Salah satu karakter kepemimpinan Cak Noer adalah kebiasaannya turun langsung ke masyarakat.

 

Saat menjabat gubernur, ia disebut mengalokasikan sebagian besar hari kerjanya untuk mengunjungi desa-desa miskin di Jawa Timur. Hanya sebagian waktu yang digunakannya untuk bekerja di kantor.

 

Pendekatan tersebut membuat Cak Noer dikenal sebagai pemimpin yang berusaha memahami persoalan masyarakat secara langsung.

 

Ia tidak hanya menerima laporan mengenai kondisi masyarakat, tetapi mendatangi desa, mendengar keluhan, melihat kebutuhan warga, kemudian menjadikannya sebagai bahan dalam merumuskan kebijakan.

 

Gagasan tersebut kemudian dikenal melalui ungkapan “Agawe Wong Cilik Melu Gumuyu”, yang bermakna membuat rakyat kecil ikut tersenyum atau menikmati kesejahteraan.

 

Ungkapan itu sekaligus menggambarkan orientasi kepemimpinan Cak Noer yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan pembangunan.

 

 

 

Menggagas Jembatan Suramadu

 

Warisan pemikiran Mohammad Noer yang paling dikenal adalah gagasannya mengenai pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura.

 

Ide tersebut telah muncul sejak dirinya menjadi Wakil Bupati Bangkalan pada 1950-an. Saat itu, Cak Noer membayangkan kawasan Kamal di Bangkalan dapat berkembang menjadi kawasan penyangga Surabaya.

 

Gagasan tersebut terus ia dorong ketika menjadi Gubernur Jawa Timur. Salah satunya dengan melakukan pembenahan akses transportasi Surabaya-Madura.

 

Cak Noer bahkan pernah menyampaikan keinginannya untuk berenang menyeberangi Selat Madura apabila pembangunan jembatan tersebut tidak kunjung terealisasi.

 

Impian itu akhirnya terwujud setelah Jembatan Suramadu dibangun dan diresmikan pada 2009.

 

 

Perhatian pada Pendidikan

 

Cak Noer juga memberikan perhatian terhadap pendidikan dan pembangunan masyarakat.

 

Salah satu program yang dijalankannya adalah program Tiga-P yang mencakup Pendidikan menuju tauhid, Percaya kepada Allah, dan Perhubungan atau pembangunan sarana dan prasarana.

 

Pada masa kepemimpinannya, Jawa Timur juga menjadi daerah yang pertama kali memperoleh penghargaan Prasamya Karya Nugraha.

 

Atas pengabdiannya, Mohammad Noer menerima berbagai penghargaan, antara lain Bintang Gerilya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan, Satya Lencana Penegak, Tanda Kehormatan Bhayangkara, Bintang Yalasena hingga Bintang Mahaputra Utama.

 

 

Melanjutkan Pengabdian sebagai Dubes

 

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Timur pada 1976, pengabdian Cak Noer berlanjut di tingkat internasional.

 

Ia dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Perancis. Dalam posisi tersebut, Cak Noer turut memperkenalkan potensi Indonesia, termasuk sektor pariwisata, di tingkat internasional.

 

Pemerintah Perancis juga memberikan penghargaan Ordre National du Mérite dengan tingkat Grand Officer kepadanya.

 

Sepulang dari tugas diplomatik, Cak Noer tetap aktif dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan sosial. Ia pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung serta terlibat dalam berbagai organisasi dan yayasan di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

 

Kini, lebih dari satu dekade setelah wafatnya pada 16 April 2010, nama Mohammad Noer kembali dikenang melalui kesaksian Prabowo.

 

Bagi Jawa Timur, Cak Noer bukan hanya bagian dari sejarah pemerintahan daerah, tetapi juga sosok yang meninggalkan gagasan tentang kepemimpinan yang dekat dengan rakyat dan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat kecil. (ivan)