Sisi Gelap Suhu Ekstrem Surabaya, Cuan Pedagang di Atas Beban Tagihan Warga

surabaya | 11 Oktober 2026 11:52

Sisi Gelap Suhu Ekstrem Surabaya, Cuan Pedagang di Atas Beban Tagihan Warga
Seorang pria melintas di kawasan Kayoon, Surabaya, di tengah cuaca panas yang menyelimuti Kota Pahlawan. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co - Gelombang suhu ekstrem yang memeluk Kota Surabaya belakangan ini telah melampaui batas fenomena cuaca biasa. Di balik kibasan kipas angin dan derasnya alir pendingin udara (AC), tersimpan ketimpangan ekonomi yang makin telanjang. Panas terik Kota Pahlawan tak sekadar mengucurkan keringat, tetapi juga mengubah udara sejuk menjadi komoditas mahal yang diam-diam memeras daya beli rakyat kecil.

 

Bagi Warni (56), seorang penjahit di kawasan Bronggalan, Surabaya, bertahan hidup di tengah suhu ruang yang menggelegak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Di ruang tamu rumahnya yang mungil, deru mesin jahit kini beradu bising dengan dua kipas angin yang menyala tanpa jeda. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (11/10/2026).

 

"Suhu udara belakangan ini sangat gerah (sumuk). Baru beraktivitas sebentar saja keringat sudah mengucur deras. Kalau siang tidak pakai AC, rasanya tidak kuat," keluh Warni.

 

 

 

Demi menjaga ritme kerjanya, Warni terpaksa menyalakan pendingin ruangan di siang hari—sebuah kemewahan kecil yang sebelumnya hanya ia nikmati sebelum tidur. Namun, adaptasi ini menuntut bayaran mahal. Sebagai pelanggan listrik berdaya 900 VA, biaya energi Warni melonjak hingga 100 persen. Dari yang biasanya cukup merogoh kocek Rp100.000 untuk kebutuhan tiga minggu, kini ia harus mengalokasikan Rp200.000 untuk durasi yang sama.

 

Bagi pekerja sektor informal seperti Warni, pembengkakan tarif listrik ini langsung memotong margin keuntungan usahanya yang tak seberapa.

 

Di sudut lain Surabaya, kepengapan yang mencekik warga justru menjadi bahan bakar mesin ekonomi ritel. Peningkatan suhu secara tidak langsung menciptakan dorongan konsumsi mendesak untuk produk-produk pendingin udara.

 

 

Di salah satu toko perabot rumah tangga di Jalan Jetis Kulon, Wonokromo, permintaan kipas angin melonjak signifikan sejak awal Agustus. Yuni, staf administrasi toko tersebut, mengungkapkan bahwa tren perburuan kipas angin terjadi hampir saban hari.

 

"Sebelum periode panas ini, penjualan rata-rata berada di angka 15 unit per hari. Sekarang bisa konsisten mencapai 20 unit per hari," terang Yuni.

 

Pelanggan rela merogoh kantong mulai dari Rp70.000 untuk kipas angin lantai ekonomis hingga Rp450.000 untuk model kipas dinding. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana cuaca ekstrem memaksa masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk mengalokasikan anggaran darurat demi membeli perangkat kenyamanan paling mendasar.

 

 

Dampak kumulatif dari perubahan perilaku masyarakat Surabaya ini tecermin jelas pada agregat data konsumsi energi regional. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur mengonfirmasi adanya lonjakan beban kelistrikan yang signifikan akibat penggunaan alat pendingin yang lebih lama dan masif.

 

General Manager PLN UID Jawa Timur, Eric Rossi Priyo Nugroho, mencatat adanya disparitas lonjakan beban mencapai 600 hingga 700 Megawatt (MW) jika dibandingkan dengan periode berudara dingin.

 

"Secara persentase, peningkatan konsumsi listrik di seluruh wilayah Jawa Timur berada pada kisaran 9 hingga 10 persen," jelas Eric.

 

 

Meski demikian, PLN menjamin bahwa keandalan pasokan energi di Jawa Timur berada dalam status aman. Dari total daya terpasang pembangkit yang mencapai 10.290 MW, beban puncak saat ini menyentuh angka 7.600 MW—meninggalkan cadangan daya operasional sebesar 2.600 hingga 2.700 MW.

 

Namun, jaminan pasokan yang aman di level makro ini kontras dengan realitas di tingkat mikro. Sistem kelistrikan memang tak mengalami krisis, tetapi ketahanan finansial rumah tangga berpendapatan rendah kian terancam oleh lonjakan biaya bulanan yang tak terhindarkan.

 

Secara ilmiah, kepungan hawa panas ini telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Diah Novita Astuti, memaparkan bahwa September dan Oktober merupakan titik puncak suhu maksimum tahunan di Jawa Timur.

 

 

"Pada September, suhu maksimum tercatat mencapai 36,7 derajat Celsius. Memasuki Oktober, seiring pergerakan semu matahari ke belahan bumi selatan usai ekuinoks, suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 36 hingga 38 derajat Celsius," jelas Diah.

 

Kondisi terik diperkirakan masih bertahan hingga datangnya masa transisi menuju musim hujan. Selama rentang waktu tersebut, warga Surabaya—terutama mereka yang berada di garis bawah ekonomi—harus terus bertaruh antara menjaga kesehatan fisik dari bahaya heat stroke atau mengorbankan sisa tabungan demi membayar tagihan energi yang kian menjerat. (ivan)