SURABAYA, PustakaJC.co - Maraknya kasus dugaan keracunan massal terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menyita perhatian publik. Catatan Kompas.com mencatat insiden ini telah meluas dan memakan ratusan korban anak sekolah di Tana Toraja, Rembang, Nganjuk, hingga Sidoarjo.
Salah satu peristiwa terbesar melanda sebuah pesantren di Sidoarjo, di mana lebih dari 500 santri mendadak mengalami masalah pencernaan parah usai menyantap hidangan yang dibagikan. Dilansir dari kompas.com, Rabu, (9/9/2026).
Namun di balik musibah ini, timbul pertanyaan besar di masyarakat: mengapa dari ratusan anak yang mengonsumsi masakan dari satu dapur yang sama, dampaknya bisa sangat bertolak belakang? Ada yang sampai harus dirawat intensif, ada yang hanya bergejala ringan, bahkan ada yang tetap segar bugar tanpa gejala.
Para pakar kesehatan membeberkan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi kondisi internal tubuh serta takaran patogen yang masuk ke dalam sistem pencernaan.
Faktor Internal dan Daya Tahan Tubuh
Secara alami, masuknya mikroorganisme asing ke dalam saluran cerna akan memicu reaksi perlawanan tubuh berupa mual, muntah, hingga diare. Meski begitu, respons imun setiap individu dalam menetralisir serangan kuman sangatlah dinamis.
Spesialis penyakit dalam, dr. Wirawan Hambali, SpPD, FINASIM, menjelaskan bahwa perbedaan reaksi fisik anak sangat bergantung pada kondisi biologis masing-masing.
"Respons setiap anak berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah kuman atau toksin yang tertelan, jenis mikroorganisme, usia, daya tahan tubuh, kondisi nutrisi, mikrobiota usus, serta kondisi kesehatan sebelumnya," papar dr. Wirawan.
Sebaran Kuman Tidak Pernah Merata
Selain faktor daya tahan tubuh, anggapan bahwa masakan dalam satu wajan besar mengandung kadar bakteri yang persis sama di setiap piring adalah keliru. Pada kenyataannya, pola penyebaran kuman di dalam makanan terjadi secara acak.
dr. Wirawan menegaskan, ketidakmerataan sebaran patogen inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa tingkat keparahan yang dialami tiap anak bisa berbeda.
"Makanan yang sama tidak selalu mengandung jumlah kontaminan yang sama pada setiap porsinya," lanjut dr. Wirawan.
Pengaruh Porsi yang Dikonsumsi
Di samping lokasi kuman yang tersebar secara acak, volume makanan yang dihabiskan anak juga berbanding lurus dengan jumlah patogen yang masuk ke dalam lambung.
Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua, menyoroti aspek porsi makan sebagai penentu dosis paparan kuman.
"Ada anak yang makan lebih banyak dibandingkan anak lainnya. Anak yang makan lebih banyak otomatis terpapar jumlah kontaminan yang lebih besar, sehingga dampak infeksi yang dirasakan tubuhnya bisa jauh lebih berat," terang dr. Arifin. (ivan)