SURABAYA, PustakaJC.co – Peringatan Hari Film Nasional setiap 30 Maret bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik sejarahnya, ada peran besar tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang ikut membangun fondasi perfilman Indonesia sejak masa awal kemerdekaan.
Momentum ini merujuk pada produksi film Darah dan Doa pada 1950 yang disutradarai Usmar Ismail. Film tersebut dinilai sebagai karya pertama film nasional Indonesia, sekaligus menjadi tonggak penting lahirnya industri film Tanah Air. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (29/3/2026).
Penetapan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional sendiri dilakukan melalui Keppres No. 25 Tahun 1999 pada era Presiden B. J. Habibie.
Namun di balik itu, ada tiga tokoh NU yang berperan besar dalam membangun ekosistem perfilman nasional: Djamaludin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani.
Lahir di Padang pada 1917, Djamaludin Malik dikenal sebagai pelopor industri film Indonesia. Ia bukan hanya produser, tetapi juga organisator ulung yang mampu menghidupkan industri film dari kondisi nyaris tidak ada.
Melalui perusahaan Persari, ia mengumpulkan para pelaku seni dari berbagai daerah dan memproduksi puluhan film. Karya-karyanya seperti Bunga Bangsa, Rindu, hingga Tauhid menjadi bagian penting dalam perkembangan film nasional.
Di masa jayanya, Persari bahkan disebut sebagai salah satu perusahaan film terbesar di Asia Tenggara. Perannya tak hanya di dunia seni, tetapi juga dalam organisasi NU, di mana ia aktif hingga tingkat pusat.
Nama Usmar Ismail tak bisa dilepaskan dari sejarah film Indonesia. Lewat Darah dan Doa, ia menandai lahirnya film nasional yang dibuat oleh orang Indonesia dengan identitas dan perspektif sendiri.
Ia juga mendirikan Perfini, perusahaan film nasional yang menjadi pusat lahirnya karya-karya penting. Film seperti Lewat Djam Malam, Tiga Dara, dan Asrama Dara menjadi tonggak kualitas perfilman Indonesia di era awal.
Tak hanya sineas, Usmar juga seorang wartawan dan pernah menjabat Ketua Umum PWI. Ia juga aktif di NU dan menjadi bagian dari pendirian Lesbumi, wadah seniman muslim Indonesia.
Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2021.
Asrul Sani merupakan sosok yang menjembatani dunia sastra dan perfilman. Ia dikenal sebagai penulis skenario, sutradara, sekaligus pemikir kebudayaan.
Karya-karyanya seperti Nagabonar, Salah Asuhan, hingga Titian Serambut Dibelah Tudjuhmenunjukkan kekuatan narasi yang khas dan berakar pada nilai-nilai lokal.
Ia juga menjadi salah satu pendiri Lesbumi bersama Usmar Ismail dan Djamaludin Malik. Bahkan, ia dikenal sebagai salah satu pelopor film bernuansa dakwah di Indonesia.
Tiga tokoh NU ini bukan hanya menciptakan film, tetapi membangun arah dan identitas perfilman Indonesia. Dari produksi, penyutradaraan, hingga penulisan cerita, mereka meletakkan dasar yang masih menjadi rujukan hingga hari ini.
Hari Film Nasional menjadi pengingat bahwa sejarah film Indonesia tidak lahir begitu saja, melainkan dari perjuangan panjang para tokoh yang bekerja dari balik layar—termasuk mereka yang datang dari tradisi pesantren dan NU. (ivan)