SURABAYA, PustakaJC.co - Tokoh ulama Nahdlatul Ulama (NU), KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai sosok ulama produktif yang berperan penting dalam dunia keilmuan, pesantren, hingga politik nasional pada abad ke-20.
Kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah, tahun 1915 itu bukan hanya dikenal sebagai pengasuh pesantren, tetapi juga penulis produktif yang melahirkan ratusan karya. Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir Al?Ibriz, tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa Pegon yang hingga kini masih dipelajari di banyak pesantren. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (12/3/2025).
KH Bisri Mustofa lahir di Kampung Sawahan, Rembang, dari pasangan H. Zainal Mustofa dan Chodijah. Nama kecilnya adalah Mashadi sebelum kemudian diganti menjadi Bisri Mustofa setelah menunaikan ibadah haji.
Sejak kecil, ia sudah mendapatkan pendidikan agama dari para ulama. Ia belajar di Pesantren Kasingan Rembang kepada KH. Cholil Kasingan serta kepada ulama besar pesisir utara Jawa, Syekh Ma’shum Lasem.
Sanad keilmuan Kiai Bisri juga tersambung dengan jaringan ulama Nusantara, termasuk dengan KH. Hasyim Asy’ari melalui para gurunya.
Pada 1936, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan haji sekaligus memperdalam ilmu agama kepada sejumlah ulama Timur Tengah. Setelah sekitar satu tahun belajar, ia kembali ke Rembang dan membantu mengajar di pesantren Kasingan.
Setelah wafatnya mertuanya, KH Cholil Kasingan, Bisri Mustofa melanjutkan perjuangan pendidikan pesantren. Ia kemudian mendirikan Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin di Leteh, Rembang, yang hingga kini dikenal sebagai salah satu pesantren penting di daerah tersebut.
Selain dikenal sebagai ulama dan pengasuh pesantren, KH Bisri Mustofa juga memiliki kemampuan sastra yang kuat. Ia sering menggubah syair Arab ke dalam bahasa Jawa agar mudah dipahami masyarakat.
Beberapa syair yang dikenal luas di antaranya adalah Ngudi Susilo dan Tombo Ati, yang menjadi bagian dari tradisi keilmuan pesantren.
Dalam bidang politik, ia aktif memperjuangkan aspirasi umat melalui organisasi dan partai politik. Saat masih bergabung dalam Masyumi, ia dikenal sebagai aktivis yang gigih.
Ketika Nahdlatul Ulama keluar dari Masyumi, Kiai Bisri tetap setia memperjuangkan NU melalui partai tersebut.
Pada Pemilu 1955, ia terpilih menjadi anggota Konstituante dari Partai NU. Setelah keluarnya Dekrit Presiden 1959, ia kemudian menjadi anggota MPRS.
Pada masa Orde Baru, ketika partai-partai politik difusikan, Partai NU bergabung ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Kiai Bisri melanjutkan perjuangannya di partai tersebut.
Menurut putranya, KH. Cholil Bisri, jumlah karya KH Bisri Mustofa mencapai sekitar 176 kitab dan tulisan.
Karya-karya tersebut ditulis dalam berbagai bahasa, mulai dari bahasa Jawa dengan huruf Pegon, bahasa Indonesia, hingga bahasa Arab.
Di antara seluruh karyanya, Tafsir Al?Ibriz menjadi yang paling terkenal karena menggunakan bahasa Jawa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tafsir ini menggabungkan pendekatan bahasa, fiqih, dan tasawuf sehingga mudah dipahami oleh kalangan pesantren maupun masyarakat umum.
KH Bisri Mustofa wafat pada 17 Februari 1977, kurang dari sepekan sebelum masa kampanye Pemilu 1977 berakhir. Meski telah wafat, pemikiran dan karya-karyanya masih terus dipelajari hingga kini.
Warisan intelektualnya menjadikan KH Bisri Mustofa sebagai salah satu ulama NU yang memberi kontribusi besar bagi perkembangan keilmuan Islam di Indonesia. (ivan)