SURABAYA, PustakaJC.co - Saat cuaca panas melanda, kebanyakan orang memilih minuman dingin atau mencari ruangan berpendingin udara. Namun berbeda dengan masyarakat Korea Selatan yang justru memiliki tradisi unik mengonsumsi samgyetang, sup ayam ginseng panas yang dipercaya mampu memulihkan stamina dan membantu tubuh menghadapi suhu tinggi.
Samgyetang merupakan salah satu makanan tradisional Korea yang telah dikenal selama bertahun-tahun. Hidangan ini terbuat dari ayam muda utuh yang direbus bersama ginseng, beras ketan, jujube, bawang putih dan berbagai rempah lainnya.
Masyarakat Korea meyakini samgyetang sebagai makanan kesehatan yang kaya nutrisi dan mampu membantu memulihkan energi tubuh saat kelelahan maupun ketika kondisi fisik menurun.
Bahkan, hidangan ini disebut menjadi salah satu makanan favorit CEO Nvidia Jensen Huang saat berkunjung ke Seoul pada awal Juni 2026.
Secara harfiah, samgyetang berasal dari tiga kata yaitu sam yang berarti ginseng, gye yang berarti ayam, dan tang yang berarti sup.
Warga Korea Selatan, Janice Choi, mengatakan samgyetang menjadi pilihan utama masyarakat ketika membutuhkan tambahan energi atau saat menghadapi tekanan pekerjaan.
"Ketika berpikir tentang makanan sehat, samgyetang adalah hal pertama yang terlintas di pikiran kami," ujarnya saat ditemui di Seoul.
Selain kaya protein dari daging ayam, samgyetang juga mengandung ginseng yang dikenal sebagai tanaman herbal khas Korea yang dipercaya membantu meningkatkan stamina tubuh.
Meski dapat dibuat sendiri di rumah, banyak warga Korea memilih menikmati samgyetang di restoran karena proses pembuatannya cukup rumit dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Salah satu restoran yang terkenal menyajikan hidangan tersebut adalah Baeknyeon Tojong Samgyetang di kawasan Jongno, Seoul, yang pernah masuk dalam Michelin Guide 2017 hingga 2019.
Menu andalan restoran tersebut adalah samgyetang dengan tambahan bawang hitam yang memberikan cita rasa khas pada kuah kaldu ayam yang kaya rempah.
Dalam penyajiannya, samgyetang disajikan dalam mangkuk tanah liat dengan kondisi masih mendidih sehingga menghasilkan aroma kuat yang menggugah selera.
Keunikan lain dari samgyetang adalah kebiasaan masyarakat Korea mengonsumsinya justru saat musim panas, terutama ketika memasuki periode sambok atau hari-hari terpanas dalam kalender tradisional Korea.
Tradisi tersebut berangkat dari filosofi "yi yeol chi yeol" yang memiliki makna melawan panas dengan panas.
Warga Busan, Lee Chungmin, mengatakan masyarakat Korea percaya makanan panas dapat membantu tubuh beradaptasi dengan suhu lingkungan yang tinggi sekaligus menjaga energi tetap stabil.
"Sewaktu kecil orang tua saya selalu mengajak makan samgyetang saat musim panas untuk mendapatkan kekuatan tambahan," katanya.
Filosofi tersebut ternyata juga mendapat dukungan dari sejumlah penelitian. Salah satunya studi Universitas Ottawa yang menyebut minuman atau makanan hangat dapat membantu tubuh mengaktifkan mekanisme pendinginan alami melalui produksi keringat.
Saat keringat menguap, panas tubuh ikut terlepas sehingga tubuh dapat terasa lebih sejuk dibandingkan setelah mengonsumsi minuman dingin.
Menurut Lee, filosofi yi yeol chi yeol tidak hanya diterapkan dalam urusan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari cara pandang masyarakat Korea dalam menghadapi tantangan hidup.
Masyarakat Korea cenderung memilih menghadapi masalah secara langsung dibanding menghindarinya, sebagaimana mereka menghadapi musim panas dengan semangkuk sup panas.
Sejarah samgyetang sendiri telah berlangsung panjang dan menjadi bagian dari identitas kuliner Korea Selatan. Meski sempat muncul klaim dari China terkait asal-usul hidangan tersebut, sejumlah peneliti dan lembaga di Korea menegaskan samgyetang merupakan makanan tradisional yang berkembang sejak era Dinasti Joseon.
Hingga kini, tradisi menyantap samgyetang saat musim panas tetap bertahan di tengah gaya hidup modern masyarakat Korea Selatan.
Bagi banyak warga Korea, semangkuk samgyetang bukan sekadar makanan pengisi perut, tetapi simbol ketahanan tubuh, kesehatan, dan filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi. (int)